Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

PUISI HUJAN

Gambar
Hujan mengingatkanku pada suatu masa Ketika ketidaksengajaan mempertemukan aku dengan dia Disituasi yang tidak terduga Menumbuhkan rasa didalam dada   Hujan mengingatkanku pada s ebuah nama Nama yang tak lagi asing untuk aku dengar Yang selalu datang dan berkelakar Yang dapat menikam segala sepi yang melesap Hujan mengingatkanku pada sebuah rindu Pada sosok yang selalu menemaniku Sosok yang selalu mengajariku Sosok yang selalu menjagaku Hujan mengingatkanku pada sebuah luka Luka yang teramat sangat dalam Hujan mengingatkanku pada sebuah penyesalan Penyesalan yang teramat sangat dalam Hujan mengingatkanku pada sebuah kesempatan Kesempatan yang tak jua aku dapatkan  Kau tahu apa yang hebat dari HUJAN?! Dia akan kembali meski tahu rasanya jatuh berkali-kali

Elang dan Tegar

Gambar
“Elang itu kan nama burung. Pasti kamu bisa terbang kaya burung disana! Lihat… Wahhhh… Seneng banget.” Elang memandang sahabatnya yang berbaring diatas pasir pantai. Tegar menunjuk burung yang terbang dilangit tanpa menyadari Elang yang tertawa melihatnya. “Nanti ajak aku terbang juga. Awas kalau kamu lupa!! Aku nggak akan ngasih permen lagi.” Dilangit sana terlihat pesawat terbang melintas. Tegar berdiri dan berlarian di sekitar pantai. “Heyyy… Burung besi!!! Turun dong…   Aku pengen ikut.” Tegar melambai-lambaikan tangannya sambil melompat-lompat kearah pesawat. Elang memandang keceriaan di wajah sahabatnya itu. Meskipun Tegar memiliki kecerdasan dibawah anak-anak seusianya tapi dia memiliki hati bagaikan seorang malaikat. Tegar menatap wajah Elang dengan cemberut, matanta kini berkaca-kaca. Elang mengerti perasaannya, dirangkulnya tubuh Tegar. “Tiap hari teriak, tapi merekang gak mau dengar.   Sombong sekali. Huh!” Elang mengacak-acak rambut Tegar. Te...

Kata Maaf Terakhir

Maaf. 4 huruf yang mahal harganya. ~~~               Malam yang sunyi. Gerimis perlahan turun disusul dengan suara petir. Hampir seluruh penduduk kota sedang tertidur lelap, namun keheningan itu segera pecah ketika seorang remaja perempuan berteriak histeris.             “Ini semua salah lu! Kalau bukan karena lu Edo nggak akan mati. Puas lu sekarang! Puas lu udah bunuh temen gue?!”  Remaja   perempuan itu menjerit histeris sambil memukul-mukul seorang lelaki di depannya, tak peduli walau usianya lebih tua beberapa tahun dari   dirinya. “Tenang, Mel. Udah.” Remaja perempuan lainnya mencoba melerai, menenangkan sahabatnya. “Tenang Melda. Inget sekarang kita ada di rumah sakit.” Remaja bernama Melda itu mencoba menenangkan hatinya, dia sadar kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk menghakimi lelaki dihadapannya ini. “Dia...