Kata Maaf Terakhir
4 huruf yang mahal harganya.
~~~
Malam yang
sunyi. Gerimis perlahan turun disusul dengan suara petir. Hampir seluruh
penduduk kota sedang tertidur lelap, namun keheningan itu segera pecah ketika
seorang remaja perempuan berteriak histeris.
“Ini semua salah lu! Kalau bukan
karena lu Edo nggak akan mati. Puas lu sekarang! Puas lu udah bunuh temen gue?!”
Remaja
perempuan itu menjerit histeris sambil memukul-mukul seorang lelaki
di depannya, tak peduli walau usianya lebih tua beberapa tahun dari dirinya.
“Tenang, Mel. Udah.” Remaja perempuan lainnya mencoba
melerai, menenangkan sahabatnya. “Tenang Melda. Inget sekarang kita ada di rumah
sakit.”
Remaja bernama Melda itu mencoba menenangkan hatinya,
dia sadar kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk menghakimi lelaki
dihadapannya ini.
“Dia udah bunuh Edo, Ris. Dia udah buat Edo
meninggal. Sahabat kita meninggal, Risma.” Ucap Melda pelan, tubuhnya sudah
lemas, dia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
“Kamu bunuh Kak Ridho juga nggak akan buat Edo
kembali. Kita harus terima kalau Edo sudah meninggal.” Risma memeluk sahabatnya
yang menangis sesegukan.
Mereka sekarang sedang berada di rumah sakit, lebih
tepatnya di depan ruang ICU.
Para perawat keluar membawa tubuh dingin Edo yang
ditutupi selimut putih. Melda berjalan menghampiri tubuh kaku Edo. Dipeluknya
tubuh Edo yang sudah dingin.
“Maafin gue nggak bisa jagain lu. Harusnya waktu itu
gue sama lu.” Air mata kembali menetes di pipinya. Melda sudah tidak bias
mengontrol emosinya ketika dokter mengatakan bahwa Edo—sahabatnya, telah pergi
untuk selama-lamanya.
Edo meninggal tepat pukul 11.00 malam. Dan kematiannya
disebabkan oleh lelaki yang kini duduk sambil menundukan kepalanya, usianya
empat tahun lebih tua dari Edo, Ridho—kakak kandung Edo.
“Maafin Kak Ridho, de…” Ucapnya pelan. Namun dia tahu
kata maafnya tak akan mengubah keadaan. Bahkan memanggilnya dengan sebutan ‘ade’
yang selama ini tidak pernah. Semuanya sudah terlambat. Edo sudah tidak akan
kembali padanya.
~~~
Dua hari sebelumnya.
Edo terbangun dari tidurnya karena mendengar alarm
berbunyi, dia berjalan ke arah jendela lalu membukanya lebar-lebar.
“Selamat pagi dunia.Semoga hari ini lebih baik dari
kemarin.” Ucapnya sambil memejamkan mata dan menghirup napas dalam-dalam.
Edo sangat suka pagi hari. Baginya pagi hari adalah
gairah. Tak ada yang menyapa seramah pagi. Dalam heningnya ia menenangkan, dalam
segarnya ia menggairahkan, dan dalam hangatnya ia menggerakan.
Setelah selesai mandi dan mengenakan seragam, Edo
segera menggendong tasnya dan berjalan menuju ruang makan. Disana terlihat Ayah
dan Kak Ridho sedang sarapan.
Edo menghela nafas, lalu mendekati mereka.
“Pagi, Ayah. Pagi Kak Ridho.”
“Pagi.” Jawab Ayahnya dingin.Sementara Kak Ridho tidak
menjawab.
“Edo berangkat duluan.”
“Engga sarapan dulu, Mas Edo? Inikan masih pagi.” Bi
Inah—asisten rumah tangga, yang baru datang dengan dua gelas susu, bertanya
pada Edo.
“Nggak, Bi. Aku piket hari ini.Nanti sarapan dikantin
sekolah aja.” Jawab Edo.
“Tapi ini masih terlalu pagi lho, Mas.”
“Biarin aja, Bi. Nggak sarapan juga dia nggak akan mati
ini.” Sinis Kak Ridho.
Edo hanya diam, setelah menghabiskan segelas susunya
dia berpamitan dan langsung berangkat.
Itulah kehidupan Edo. Dia sudah biasa mendengar jawaban
dingin Ayahnya dan perlakuan kasar dari Kak Ridho. Mamanya sudah meninggal enam
belas tahun lalu, tepat saat Edo dilahirkan. Selama ini Edo dibesarkan oleh Bi
Inah, karena Ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi Edo mengerti,
mungkin ayahnya terlalu shock dan itulah penyebab dia tidak mencari pengganti
Mama untuk Edo dan Kak Ridho.
Dan Kak Ridho. Edo tidak tahu kenapa dia benci
padanya. Padahal Edo tidak pernah berbuat salah, tapi dia sering berbuat jahat
padanya. Kak Ridho jadi suka memfitnah Edo di depan Ayahnya, sampai-sampai
Ayahnya sering memukul dan tak jarang menguncinya di kamar mandi.
Sebenarnya Edo merasa kesepian, dia ingin mendapat
perhatian dan kasih sayang dari Ayah dan Kak Ridho. Dia melakukan segala cara
supaya Ayahnya memperhatikannya dengan belajar yang rajin sampai menjadi
langganan juara 1 dan memenangkan lomba OSN dibidang Fisika. Dia melakukan
semua yang Kak Ridho suruh tanpa membantah. Tapi semua usahanya hanya sia-sia.
***
“Hoi! Ngelamun aja lu, Do.” Melda
menepuk bahu Edo. Mereka sedang berada di taman sekolah saat jam istirahat
pertama.
“Nggak kok, Mel. Gue Cuma lagi
ngafalin besaran pokok sama besaran turunan.”
“Hahaha… Lu nggak ada bakat
bohongnya. Masa seorang jenius seperti Edo nggak hafal materi yang ecek-ecek
gitu.”
Edo tersenyum kecut sambil memegang
tengkuknya. Melda benar, saat ini dia sedang melamun.
“Lu ada masalah?” Tanya Melda sekali
lagi.
Edo menunduk, menggelang lemah.
“Kalau lu ada masalah, cerita sama
gue.” Melda memegang kedua bahu Edo.
Edo menghela nafas. “Nggak ada kok,
Mel. Thanks udah care sama gue. Hehe..” Edo tersenyum menatap sahabatnya yang
selalu bersamanya.
Melda menatap Edo balik. Dia tahu
perasaan Edo saat ini. Dia sudah mengenal Edo lebih dari sepuluh tahun. Edo yang
tampak kuat dan tegar dari luar tapi rapuh dari dalam. Edo yang sabar menaggapi
sikap dingin Ayahnya dan perlakuan kasar Kak Ridho.
“Lu jangan natap gue kaya gitu.Nanti
jatuh cinta lagi.” Edo tertawa.
“Gue rela kok jadi pacar lu, jadi
istri lu aja gue nggak akan nolak. Lumayan buat memperbaiki keturunan. Hahaha…”
Melda menanggapi candaan Edo.
“Makasih banyak ya, Mel. Selama ini
lu dan keluarga lu udah baik banget sama gue. Gue nggak bisa ngebayangin seandainya nggak punya sahabat baik kaya lu dan Risma.” Edo
tersenyum menatap kedepan.
“Enak ya kalau mati. Bakal
dikelilingi banyak orang. Seneng rasanya.” Lanjut Edo sambil menatap langit.
“Lu ngomong apaan sih. Sampai kapan
pun gue dan Risma bakal ada buat Lu. Keluarga gue juga keluarga lu. Kami semua
saying sama lu, Edo.” Melda memeluk Edo erat. “Gue akan selalu jagain lu.”
Edo balas memeluk Melda.“Gue yakin,
Mel.Suatu hari nanti mereka pasti menyadari keberadaan gue.Gue percaya.”
Melda mengangguk. Dia berdoa dalam
hati agar Edo bisa hidup bahagia.
***
Hari ini Edo pulang larut. Tadi
di sekolahnya ada pertemuan pengurus OSIS. Edo yang menjabat sebagai Sekretaris
tentu harus ada di pertemuan itu.
Pukul delapan malam. Gerimis
turun.Belum deras, tapi cukup membuat jendela rumah terlihat basah.
“Bi… Bi Inah?!" Edo mengetuk pintu
rumahnya, terkunci. Lampu-lampu juga belum dinyalakan.‘Kemana Bi Inah dan Pak Ali?’
Edo memutuskan masuk lewat pintu belakang, tapi sama
saja, terkunci. Dia hendak menghubungi Bi Inah, tapi diurungkan. Dia ingat kalau
Bi Inah dan Pak Ali sedang pulang kampung.
Pukul Sembilan malam. Hujan turun
semakin deras. Edo kini meringkuk didalam pos satpam. Sudah beberapa kali dia
menghubungi kak Ridho, siapa tau Kak Ridho menyimpan kunci rumah disuatu
tempat, tapi handphone Kak Ridho tidak menjawab. Dia juga sungkan menghubungi
Ayahnya, takut jika Ayahnya sedang sibuk.
Edo menatap foto mamanya yang
disimpan didalam dompet. Matanya kini berair.
“Ma, Edo pengen ketemu Mama. Edo udah
nggak tahan.”
Edo terus mengulangi kata-katanya
hingga akhirnya terlelap.
***
“Heh! Bangun lu.”
Edo terbangun dari tidurnya karena
Kak Ridho. Dia berada didalam pos. Menatapnya dengan penuh kebencian.
“Masih hidup lu. Nggak sekalian mati
aja.” Ucapnya lalu beranjak meninggalkan Edo.
Edo hanya bisa terdiam. Dia tidak
membalas perkataan kakaknya. Edo berdiri dan langsung masuk kedalam
kamarnya. Badannya sakit semua dan kepalanya sedikit pusing. Tapi dia tetap
berangkat sekolah.
Ternyata keputusannya masuk sekolah
adalah kesalahan. Saat sedang mengikuti pelajaran Kimia, Edo jatuh pingsan dan
segera digendong ke UKS. Melda dan Risma menjaga Edo. Kedua remaja itu prihatin
melihat wajah pucat Edo.
“Eng… Gue dimana?” Edo membuka
matanya. Dia tidak sedang berada dikelasnya.
“Lu udah sadar, Do? Lu ada di
UKS.” Melda menjawab.
Edo menatap Melda dan Risma yang
berada disampingnya.
“Gue haus.” Ucap Edo pelan.
Risma segera menyerahkan botol air
mineral. Edo menerimanaya dan menenggak beberapa teguk, menyerahkan kembali pada
Risma.
“Kamu kenapa, Do? Kok bisa pingsan
gini.” Risma bertanya.
Edo menggelang, dia tidak ingin
menceritakan kejadian semalam. “Nggak ada apa-apa, Ris.Mungkin karena belum
sarapan aja, jadinya pingsan. Hehe..”
“Makanya lu jangan lupa buat
sarapan.” Melda mengomel.
Edo terkekeh. “Thanks udah jagain
gue. By the way, sekarang jam berapa?”
“Udah bel pulang… Tunggu dulu disini
ya.Aku ambil tas kita dulu.”
Ucap Risma berlalu pergi dari ruang UKS.
“Lu temenin Risma gih.” Edo menatap
Melda.
“Eh… Gue temenin lu aja.”
“Nggak usah. Lu temenin Risma aja.
Kasian dia harus bawa tiga tas. Gue nanti nunggu di kedai depan sekolah.”
“Yaudah. Nanti kita susul, tapi
traktir kita-kita ya. Hahaha…”
“Iya-iya. Udah cepet sana.” Usir Edo, tertawa.
Melda segera berlari menyusul Risma
sambil terkekeh. Sementara Edo beranjak turun dari ranjang lalu berjalan menuju
kedai makanan diseberang jalan depan sekolahnya.
***
Ketika Edo sampai disana, dia
melihat Kak Ridho ditempat parkir. Edo menghampiri kakaknya meskipun sedikit
takut.
“Kak.” Sapa Edo pelan.
Kak Ridho hanya menatap sekilas lalu
membuang mukanya.
“Kenapa kakak benci sama ade? Emanya
ade punya salah sama Kak Ridho?” Tanya Edo. Kak Ridho tetap mengacuhkannya.
“Kak Ridho.” Edo mencengkram tangan
kakaknya.
“Lepasin gue.Dan jangan sebut-sebut
‘ade’ lagi. Benci gue sama lu.”
"Jelasin kenapa kakak benci?”
“Lu mau tahu kenapa gue benci sama
lu? Itu karena lu udah bunuh mama.”
"Bunuh mama?!” Edo kebingungan.
“Saat ngelahiri lu, dokter bilang
kondisinya nggak memungkinkan buat ngelahirin lu. Dia bisa kehilangan
nyawanya. Dokter menyarankan agar dia menggugurkan kandungannya. Tapi mama lebih
memilih ngelahirin lu. Dan gara-gara lu lahir mama jadi meninggal. Lu udah
ngambil mama dari gue dan ayah. Itu kenapa gue dan ayah benci sama lu.”
Edo terdiam mendengar perkataan
kakaknya.
“Gimana caranya agar kalian maafin
Edo?”
“Mati. Gue udah jijik liat lu
hidup.” Ucap Kak Ridho pelan.
Kak Ridho meninggalkan Edo, tapi
baru beberapa langkah, tiba-tiba ada segerombolan anak seumurannya datang.
“Akhirnya gue bisa ketemu lu juga,
Ridho.” Ucap salah seorang diantara mereka.
“Lu lagi lu lagi. Nggak bosen apa
muncul di hadapan gue mulu.”
“Gue mau kasih perhitungan karena lu
udah ngambil cewe gue.”
“Udah gue bilang berkali-kali. Bukan
gue yang ngedeketin. Cewe lu aja yang kecentilan.”
“Brengsek lu! Gue bakal kasih
perhitungan sama lu.” Ucap lelaki pertama tadi. Dia dan teman-temannya langsung
mengelilingi Kak Ridho dan siap menghajarnya.
“Kak Ridho.” Teriak Edo ketakutan
melihat kakaknya.
“Diem. Nggak usah ikut campur urusan
gue.Pergi sana.” Usir kak Ridho.
“Tapi kak…”
"Oh ini adik lu.” Ucap leleki tadi. Edo belum mengenal namanya. Dia dan dua orang temannya mendekati Edo dan mencengkram kedua tangannya erat-erat.
“Dia nggak ada urusannya sama lu,
Danu. Urusan lu dengan gue.” Kak Ridho mendekati Edo tapi Danu menghalangi
langkahnya.
“Tenang aja. Setelah urasan kita
selesai. Gue baru berurusan dengan dia.” Ucap Danu, lalu dia memberikan kode
pada teman-temannya, seketika mereka langsung mengeroyok Kak Ridho.
Edo panik, dia meronta-ronta,
khawatir dengan kakaknya. Walaupun kakaknya jago karate, tapi kalau keroyokan,
dia sudah nngak ada peluang.
Kak Ridho tampak kewalahan. Satu
lawan enam. Dia kalah telak, tubuhnya banyak terkena pukulan. Saat akan
menghindar, dia malah terdorong ketengah jalan raya.
Demi melihat sebuah truk yang melaju
kencang ke arah Kak Ridho. Edo berusaha melepaskan cengkramannya dan berlari
kearah kakaknya.
“Kak Ridho.” Edo mendorong tubuh Kak
Ridho kesisi jalan. Beberapa saat kemudian tubuhnya terpental. Dia masih bisa
mendengar jeritan Melda dan Risma memanggil namaya. Dan Kak Ridho yang
menghampiri dengan raut muka cemas.
Edo sudah tidak bisa merasakan
apa-apa lagi, tubuhnya seperti mati rasa.Yang dia tahu tubuhnya di bopong kedalam
mobil ambulan dan beberapa petugas memasang masker oksigen.
“Maafin kakak, de.”
Edo membuka matanya, dia melihat Kak
Ridho sedang menggenggam tangan kirinya, matanya beruraian air mata.Sementara
Melda dan Risma duduk di samping kananya, menangis berpelukan.
Edo tersenyum bahagia meskipun dalam
kondisi seperti ini. Dengan nafas terputus-putus, dia mencoba berbicara.
“Edo sayang Kak Ridho dan Ayah.
Forgive me.”
Dan setelah itu pandangannya menjadi
gelap.
~~~
“Kenapa kamu nolongin kakak? Padahal
kakak selalu berbuat jahat sama kamu.” Kak Ridho menutup wajahnya dengan kedua
telapak tangan. Terisak.
Tak lama kemudian seorang lelaki
paruh baya dengan pakaian kantor datang, dia adalah Ayahnya Edo dan Kak Ridho.
Dia mendekati tubuh putra keduanya yang ditutupi selimut putih.
“Maafkan kami. Kami sudah berusaha
semampu kami. Tapi nyawa saudara Edo sudah tidak bisa diselamatkan.” Ucap seorang
dokter.
Ayah Edo langsung lemas mendengar
perkataan dokter. Dia memeluk tubuh Edo yang sudah mendingin, terisak penuh
penyesalan.
“Tadi kami menemukan surat ini dipakaian Edo” Dokter tadi menyerahkan selembar kertas putih dengan bercak darah.
Kak Ridho segera mengambil surat itu
dan membukanya.
Untuk
Ayah dan Kak Ridho.
Edo
sayang banget sama kalian, walaupun Ayah dan Kak Ridho bersikap dingin. Tapi
Edo tahu kalau juga sayang Edo .Maafin Edo ya, kalau selama ini hanya merepotkan
kalian. Dan Edo juga minta maaf udah buat Mama meninggal. Semoga kalian maafin Edo.
Selamat
tinggal Ayah.
Selamat
tinggal Kak Ridho.
Peluk
cium dari Edo 1000X.
Kak Ridho meremas surat itu. Dia
sudah tidak bisa menahan air matanya. Sungguh jika dia tahu akan begini
jadinya, dia tidak akan bersikap jahat pada adiknya. Kalau semuanya jadi
begini, dia akan menjaga adiknya dan memperlakukannya seperti harta yang
berharga.
Namun semuanya sudah
terlambat. Adiknya sudah tidak ada. Bahkan untuk bilang bahwa dia juga amat
menyayanginya.
Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan
yang teramat sangat dalam.
***
Andai kata masa lalu bisa diulang
kembali, maka setiap orang pasti melakukannya. Tapi pada kenyataannya, masa lalu
adalah masa yang sudah berlalu. Apapun kejadian dimasa lalu hanya akan menjadi
sejarah. Jadikan penyesalan sebagai pengalaman yang berharga untuk dijadikan pelajaran dalam meningkatkan
kualitas hidup.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar