Mt.Gede 2.958 mdpl
Pendakian
Pertama (14-16 Mei 2015)
Gunung
Gede (foto diambil dari Surya Kencana)
Assoooyyy~
Akhirnya
setelah 4 tahun menunggu, bisa kesampaian juga mendaki Gunung Gede.
Yups!
Itu adalah impian gua sejak masih kelas 5 sekolah dasar, walaupun itu gunung
keliatan dari kampung tercinta tapi membayangkan bisa berdiri di puncak sana
seperti mimpi disiang bolong. Hiks~ *mojok bawah pohon*
Daripada
makin ngawur dan kalian makin males bacanya. Simak yuk cerita perjalanan
pendakian pertama gue.
Dan
tentunya dengan gaya penulisan gue yang drama lebay plus banyak nyampahnya.
Check this out…
***
Setelah berdoa dan cek perlengkapan juga patuah dari Kang Dani. Rasanya hati gue makin mantap.
“Bismillahirrohmanirrohim.”
Gue mulai menapakkan kaki menyusuri gelapnya track Gunung Putri.
Tapi...
30 menit kemudian…
30 menit kemudian…
Njirr… Gue udah ngos-ngosan. Napas gue udah senin-kamis.
Kata
kang Dani ada untung-ruginya kita mendaki malem-malem. Untungnya selain nggak
kepanasan, kita juga nggak bakal langsung down kalo liat tracknya yang nanjak.
Ruginya ya itu, semuanya serba gelap, pandangan kita cuma terbatas oleh cahaya
headlamp. Kalo nggak hati-hati udah deh. Wassalam! Hiyy (~'o')~ *ketok-ketok
meja*. Selain itu juga kita rebutan oksigen sama pohon-pohon.
Dan
inget, kita mandaki tanggal 14 Mei 2015 yang kebetulan hari itu hari kamis.
Berarti kita mendaki malam Jum'at! *pasang wajah horror*
Tapi
beruntung gue nggak bisa liat yang kaya gituan.
Gituan
apaan??!
Gituan
gitu deh… Hehehe…
***
Kira-kira udah 3 jam
kita jalan.
“Tracknya ajib bener
dah! Nanjak terus.”
Beneran lho. Tracknya
nanjak terus. Jarang ada landai-landainya.
“Gue mau balik! Cape
tau cape!” *mojok bawah pohon, tapi nggak jadi takut ketemu sama mbak kunti,
kasian dianya*
Badan gue rasanya udah
nggak sanggup lagi. Ternyata nggak sesuai yang gue bayangin. Padahal udah rajin
olahraga sebelumnya, sesuai perintah Kang Dani.
Asli! Gue beneran nggak
sanggup lagi.
Melihat tampang gue
yang udah ngenesin, Kang Dani nyamperin gue buat mengsupport.
“Ayo lanjutin. Jangan
ngerasa lemah. Sejam lagi kita sampai. Nikmatin perjalanannya.”
Meskipun bilang ‘sejam lagi sampai’, tapi, namanya juga gunung, rajanya PHP. Wajar banget
kalo anak-anak gunung kelakuannya jadi pada tukang PHP.
Sedeket-deketnya
gunung tuh jauhhh banget kayaknya.
Yosh! Gue pasti bisa.
Bukan gunung yang gue taklukin, tapi diri gue sendiri. Bener kan?!
***
Dan
akhirnya gue nggak bisa berkata-kata lagi. Cape dan lelah gue semalem terbayar
sudah saat gue akhirnya bisa sampai di Alun-alun Surya Kencana.
Alun-alun
Surya Kencana
Alun-alun Surya kencana adalah tempat yang sangat
eksotis. Pagi hari kita dapat menikmati sambutan mentari terbit, sore harinya
diperlihatkan semburat jingga matahari tenggelam. Alun-alun ini sangat luas,
menurut Kang Dani saking luasnya alun-alun ini bisa menampung satu warga kota.
Kebayang kan gimana luasnya?
Setelah mendirikan tenda, masak terus makan dan foto-foto narsis, sampe lari-larian kaya difilm india. Kang Dani ngajak gue tidur (?) buat ngumpulin stamina karena besok subuh siap-siap ke puncak. Tapi bagaimana gue bisa tidur kalau lagi di tempat seindah ini. Alhasil, setelah Kang Dani bener-bener tidur, gue keluar tenda dan memutuskan buat jalan-jalan.
Jangan tanya gimana caranya foto gini sendiri
Eidelweiss
*ingat jangan dipetik*
***
Besoknya,
tanggal 16 Mei jam 04.15 WIB kita udah siap buat summit.
Gue
paling suka perjalanan kali ini, nggak banyak bawa beban, hanya bawa tas kecil
yang isinya biskuit sama teh manis. Perjalan jadi terasa lebih enteng.
Tapi
eh tapi. Memang realita tak seindah asa, baru aja seperempat jalan napas gue
mulai ngos-ngosan. Rebutan oksigen lagi sama pohon-pohon. Beberapa kali gue
berhenti buat sekedar ngatur napas.
Jalan
lagi.
Napas
senin-kamis.
Berhenti.
Atur
napas.
Jalan
lagi.
Gitu
terus sampe kiamat. Eh becanda ding!
Kurang
dari 60 menit, kita udah sampe di Puncak Gede 2.958 mdpl.
Setelah solat subuh.
Bayangin gue solat di
ketinggian 2.958 mdpl. Hebat kan gue, kan? *sengaja nggak ada foto, takut nanti
solat gue jadi riya*
Impian gue akhirnya
terwujud. Disini. Di Puncak Gede. Gue berdiri disini.
Benar kata orang,
puncak itu bonus perjalanan lah tujuan utamanya.
Perjuangan gue yang
nggak begitu mudah, mengingat ini pendakian perdana gue. Lelah dan cape
semuanya benar-benar terbayar lunas.
Dan gue dikasih
bonus dengan sunrise ini.
***
Gue
ngucapin banyak terima kasih buat Gunung Gede yang sudah memberikan
keindahannya.
Allah
swt. yang telah memberikan kekuatan, keselamatan dan kesehatan kepada kami.
Dan
tentunya, buat Kang Dani yang udah ngasih the best experience. Pendakian
pertama. Berkat dia gue banyak belajar.
Tentunya
buat kamu juga yang (nggak) sengaja mampir dan udah baca cerita ini.
See ya~
Mendakilah bersamaku, maka kau akan tau sifatku,
Mendakilah bersamaku, maka kau akan tau bagaimana aku menjagamu.


Komentar
Posting Komentar