Lapang Dada
Cerita ini didedikasikan buat Melda, jangan marah ya^^ hehe..
Selamat membaca
~~~
Ke mana ini akan membawaku
Aku takkan pernah tahu
Mengirim cahaya untukmu
Selamat membaca
~~~
Cinta memang ada untuk
dicintai dan diungkapkan sebagai sebuah jembatan baru ke pelajaran-pelajaran
manusia selanjutnya. Tidak pernah ada cinta yang bisa dimiliki manusia, sang
pencipta tidak memberikan apa yang manusia pinta seperti cinta. Ia memberikan
apa yang manusia butuhkan.
~~~
Bel pulang sekolah berbunyi. Lapangan sekolah dipenuhi
anak-anak yang baru saja keluar dari kelas. Juga lorong-lorong, suara mereka
bagaikan dengung lebah mengisi langt-langit.
Anak-anak kelas X-6
berhamburan keluar kelas setelah berdoa dan mengucap salam. Gue segera
merapihkan tas dan berjalan menuju lapangan. Hari ini ada latihan silat.
“Hei, Mel! Tunggu
bentar!” Teman sekelas gue, Abby, memanggil tepat sebelum gue keluar dari
kelas.
Gue menoleh. “Iya, ada
apa?”
“Latihan silat, kan?”
Tanyanya sambil merapihkan tas.
“Nggak jawab juga pasti
lu udah tau kan?”
“Hehe.. barengen yuk?”
“Yaudah, cepetan.” Jawab
gue sedikit ketus.
“Iya-iya, nyantai dikit
napa.”
Nama gue Melda. Cukup
panggil Melda, kerena semenjak SD tidak ada yang pernah memanggil lengkap nama
gue. Jadi, gue pikir percuma saja memperkenalkan diri. Toh, semuanya akan
memanggil nama terpendek gue. Seperti kalau seseorang menyapa: “Eh, Mel!” atau
“Mau kemana, Mel.” dan sebagainya.
Yang tadi manggil gue
namanya Abby, salah satu temen cowo gue di kelas dan satu ekskul, Silat. Dan
dia juga—oke stop! Gue nggak mau panjang-panjang cerita tentang si Abby, toh
dia nggak terlalu penting ini.
Seperti yang kalian
tahu, gue mau latihan silat. Gue ikut silat belum lama ini, saat masuk SMA.
Aneh kalau cewe ikut bela diri semacam silat? Nggak aneh kok. Bagi gue Pencak
Silat itu mempunyai gerakan seni yang bernilai tinggi dalam kehidupan manusia.
Saking asiknya ngobrol
sama Abby, gua nggak merhatiin jalan didepan, dan akhirnya gue menabrak
seseorang.
“Ops! Sorry-sorry, gue
nggak liat.” Ucap gue minta maaf, secara memang gue yang salah.
“Nggak apa-apa.” Jawab
orang itu yang tadi gue tabrak. Dan ternyata itu Alif—teman di silat.
“Eh, Alif!” sapa gue
sedikit girang (?) “Latihan silat juga?” pertanyaan macam apa ini, tentu saja
dia pasti latihan.
“Iya, Mel,” jawabnya.
“Tapi gue mau ke kantin dulu nih.”
“Hai, Lif!”
Gue hampir ngelupain
sosok disebelah gue ini, kalau bukan hanya kita berdua doang yang ada disini.
“Eh, By!” Alif menjabat
tangan Abby.
Omong-omong Alif dan
Abby ini temenan dekat.
“Kantin nih? Ikut ya?”
Tanya Abby.
“Boleh! Lu mau ikut
juga Mel?” Tawar Alif.
“Emm…” gue berfikir
sejenak. “Nggak deh, makasih. Gue mau ganti baju dulu.”
Alif mengangguk paham.
Lalu dia dan Abby berbalik meninggalkan gue menuju kantin.
Yang tadi namanya Alif,
anak kelas X-5, ikut silat juga, masih sabuk putih sama kaya gue. Tapi meskipun
baru sabuk putih dia itu udah jago benget. Gerakannya lincah. Dari pertama gue
ikut silat gue udah dibuat kagum sama ini anak.
***
Tepat pukul 17.30,
latihan silat hari sudah selesai. Gue berjalan gontai keluar sekolah menuju
jalan raya yang nggak terlalu jauh dari gerbang. Cape banget hari ini.
“Ini angkot lama amat sih.” Umpat gue kesal.
Sudah sepuluh menit
angkot ke arah rumah gue belum muncul-muncul. Sementara Abby dan temen-temen
gue yang lainnya sudah lebih dulu naik angkot. Tinggal gue seorang diri nunggu
angkot dipenggir jalan.
“Tintinnn…” Suara
klakson motor mengagetkan gue yang lagi bengong.
“Naik Mel. Gue anter
pulang.” Ucap si pengendara motor sambil menaikkan kaca helmya. Dia Alif!
Gue diam, sedikit
menimbang. Ikut atau engga.
“Udah cepetan naik!”
Melihat gue yang cuma diem nggak bereaksi, Alif menarik tangan gue untuk duduk
di jok belakang.
“Rumah lu dimana?”
Tanya Alif sambil menstater motor maticnya.
Gue menyebutkan daerah
tempat gue tinggal.
Alif mengangguk. “Nggak
terlalu jauh. Pegangan, gue mau ngebut.”
Lima belas menit
kemudian kita sudah samapi di depan rumah gue. Gue segera turun dari motor
Alif.
“Makasih ya, Lif.” Ucap
gue.
“Yoi, sama-sama. Gue
pergi dulu ya.”
“Ok. Hati-hati.” Ucap
gue sambil terus menatap punggung Alif, lalu menghilang ditikungan.
Dada gue kok
berdebar-debar? Luapan perasaan apa ini?
Rasanya…
Gue..
Bahagia!
***
###
Apa
yang salah dengan lagu ini
Kenapa kembali ku mengingatmu
Seperti aku bisa merasakan
Getaran jantung dan langkah kakimu
Ke mana ini akan membawaku
Kenapa kembali ku mengingatmu
Seperti aku bisa merasakan
Getaran jantung dan langkah kakimu
Ke mana ini akan membawaku
###
“Mel, kantin yuk? Laper
nih.”
“…”
“…”
“…”
“Woy! Ngelamun aja!”
Abby menggebrak meja yang sukses membuat gue spot jantung nyaris terjengkang
kebelakang.
“Bego!” Gue menjitak
kepala Abby.
“Shit!” Umapat Abby,
“sakit, Mel.”
“Siapa suruh ngagetin
gue..” Balas gue sedikit ketus.
“Lah, sipa suruh lu
malah ngelamun. Diapanggil-panggil malah nggak nyahut.” Abby mengusap-usap
kepalanya.
“Eh apa?” tanya gue
bingung.
“Kamu ngelamun sejak
dua jam pelajaran terakhir, Mel. Nggak denger apa tadi bel istirahat.” Sewot
Anis—teman sebangku.
“Tuh denger apa kata
Anis.” Cibir Abby.
“Hehe.. Maaf-maaf. Yuk
ke kantin.”
Untuk menuju kantin
sekolah, kami harus melewati lapangan basket terlebih dulu. Kebetulan saat itu
ada beberapa anak kelas X-5 yang memakai baju olahraga sedang bermain basket.
Dan tentu saja ada Alif disana.
“Mel, tadi kamu
ngelamunin apaan sih? Kok sampai senyum-senyum gitu? Bikin nyeremin.” Tanya
Anis penasaran.
“Eh, nggak ada kok.”
Kilah gue. Mana mungkin gue bilang kalau gue tadi lagi mikirin kejadian
kemarin.
“Bohong, lu!” Tuding
Abby.
“Gue nggak bohong ya.”
Kilah gue lagi.
“Ck! Kagak percaya
gue.”
“Serah lu deh. I don’t
care.”
“Percaya sama lu mah
mus— MEL, AWAS !!!” Teriak Abby tiba-tiba.
Sebelum gue sadar.
Sebuah bola basket menghantam keras tepat diwajah. Hidung gue terasa sakit.
Tubuh gue limbung. Tak berapa lama sebagian siswa yang melihat kejadian datang
menghampiri gue yang jatuh terduduk. Sebagian ada yang tertawa, sebagian lagi
ada yang merasa iba. Tapi, banyakan yang tertawa sih. Hahaha.. (Jahat banget
nih penulis).
“Mel, lu nggak apa-apa
kan?”
Pertanyaan Abby
terdengar tak masuk akal, siapa pula yang baik-baik saja setelah wajahnya
dihantam bola basket, ditonton banyak orang pula.
‘Woy
penulis, apa-apaan sih? Baru saja kemarin gue seneng kok langsung dibikin kesel
aja sih? Penulis menjawab, *sambil garuk-garuk kepala dan
nyengir kuda* anu… Mel, kalau nggak gitu ceritanya nggak akan jalan. Jadi
sementara nurut dulu sama skenario gue ya. Sorry deh ^^;.
“Mel, lu b-baik-baik
aja kan?”
Tunggu, suara ini gue
kenal. Gue mendongak manatap wajah si pemilik suara tadi, mencoba memastikan.
Dia Alif, jongkok
dihadapan gue dengan raut wajah cemas dan merasa bersalah.
“Kalau main hati-hati
dong, Lif. Liat! Melda malah jadi korbannya kan.” Omel Anis sambil membantu gue
berdiri.
Kerumunan sudah tak
begitu ramai.
“Udahlah, Nis. Gue
baik-baik aja kok.”
“Gue minta maaf, Mel.
Beneran tadi nggak sengaja,” ucap Alif penuh penyesalan.
Meskipun sakit dan
malu, tapi saatbAlif datang dan minta maaf, rasanya, dihantam puluhan kali juga
gua mau-mau aja.
“Iya, Lif. Gue nggak
ap—“
“MEL, HIDUNG LU
BERDARAH!!!” Teriak Abby lagi.
Gue mearasakan ada yang
mengalir lewat hidung dan saat disentuh ternyata itu darah. Tiba-tiba kepala
gue begitu berat. Pandangan gue kabur. Dunia serasa berputar. Dan semuanya
menjadi gelap.
***
“Dimana ini? Aww..
kepala gue.”
“Siapa Tuhanmu?” Tanya
sebuah suara yang menyadarkan gue.
What?! Ja-jangan bilang
kalaau gue udah mati. My God! Gue kan masih jomblo. Nggak mau mati.
“Hahaha.. Nggak usah
bingung gitu deh, Mel.” Suara itu tertawa, sangat familiar ditelinga gue.
“Eh?!” Aku menoleh.
“Alif?! Jadi lu itu malaikat maut?” Teriak gue shock.
“Eh.. Bukan, woy!”
Jawab Alif.
“Ini di UKS.”
Lanjutnya.
“UKS?” Gue bingung.
“Tadi kan lu pingsan.
Terus gue bopong kesini, dibantu sama Abby juga sih.”
“terus ngapain lu
disini? Abby sama Anis mana?”
“Mereka di kelas. Gue
harus tanggung jawab karena udah bikin lu pingsan, makanya gue nungguin lu.”
“Emangnya lu nggak
belajar?” Tanya gue lagi.
“Gurunya nggak masuk.’
“Oh.. Thanks ya.”
“Buat?”
“Udah nungguin gue.”
“No problem. Harusnya
gue yang minta maaf udah buat lu pingsan.”
“Udah, lupain aja.
Bikin gue malau tau.”
Kami tertawa.
“Emm.. kayanya gue
balik ke kels aja.” Ucap gue.
“Yakin?” Alif
memastikan.
“Yups, gue nggak betah
lama-lama di UKS.”
“Oke! Yuk, gue anter lu
ke kelas.” Tawar Alif.
Gue mengangguk setuju.
***
###
Di
jalan yan setapak kecil ini
Seperti ku mendengar kau bernyanyi
Kau tahu
Kau tahu
Rasaku juga rasamu
Seperti ku mendengar kau bernyanyi
Kau tahu
Kau tahu
Rasaku juga rasamu
###
Malamnya..
Handphone gue berbunyi.
Ada WA dari Alif.
Alif: malam mel
Gue: malam juga. Tumben
nih WA, ada angin apa? :3
Alif: pengen tau
keadaan lu aja sih hehe
Gue: gue baik2 aja
Alif: oh, syukurlah.
Lagi apa?
Gue: lagi demus
Alif: belum tidur? Udh jam 11 malem lho
Gue: insom deh keknya
-_-
Alif: dih, kok bisa?
Mau gue tidurin
Gue: NO!! kita masih
SMA, lif. Belum cukup umur *emot kaget*
Alif: bukan itu maksud
gue. Bantu lu biar cepet tidur, aelah -_-
Gue: hehe..
sorry-sorry. Caranya?
Alif: gue nyanyiin lagu
Nina Bobo :v
Gue: gk etis -_-“a
Alif: lengser wengi
Gue: emang gue setan
apa? *tabok*
Alif: hymne guru atau
syukur :v
Gue: gugur bunga
gimana?
Alif: so sweettt.
Gloomy Sunday aja sekalian haha
Alif: gue telpon ya?
Gue: boleh (dalam hati:
demi apa Alif nelpon gue. Akh.. gue seneng)
Tak lama handphone gue
berdering.
###
“What would I do without your smart mouth?
Drawing
me in, and you kicking me out
Got
my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's
going on in that beautiful mind
I'm
on your magical mystery ride
And
I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright
My
head's under water
But
I'm breathing fine
You're
crazy and I'm out of my mind”
###
“Wow! Suara lu merdu
banget, Lif.” Seru gue surprise.
“Haha.. baru tau?”
“Serius! Gue belum
pernah denger lu nyanyi.”
‘Belum ya?”
“Belum. Tau gitu gue
suruh lu nyanyi buat hibur gur deh. Hehe…”
“Hehe.. Boleh-boleh.”
“Sip lanjut”
“sampe mana tadi?”
“Reff”
###
“Cause all of me
Loves
all of you
Love
your curves and all your edges
All
your perfect imperfections
Give
your all to me
I'll
give my all to you
You're
my end and my beginning
Even
when I lose I'm winning
Cause
I give you all of me
And
you give me all of you, oh oh”
###
Mulai dari bait dibawah
ini gue spontan nyanyi meskipun terdengar kumur-kumur.
###
“How many times do I have to tell you
Even
when you're crying you're beautiful too
The
world is beating you down, I'm around through every mood
You're
my downfall, you're my muse
My
worst distraction, my rhythm and blues
I
can't stop singing, it's ringing, in my head for you”
###
Oh, God. Kok gue jadi senyum-senyum
gini ya?
###
“Give
me all of you
Cards
on the table, we're both showing hearts
Risking
it all, though it's hard”
###
Semakin
lama gue semakin terhanyut sama suara Alif. Tubuh gue terayun bebas dab
meringan, sementara mata gue memberat. Sedikit demi sedikit suara Alif mengecil
sebelum akhirnya menghilang dari pandengaran gue.
***
Tiba-tiba gue terbangun.
Alif.
Ingatan gue langsung
tertuju ke dia.
Gue mengambil handphone
yang tergeletak di samping bantal. Sekarang pukul 04.07.
Oh, iya, ada 1 pesan WA
dari Alif:
“Met bobo, Mel. Mimpi
Indah.”
Gue senyum-senyum baca
pesan itu.
Perlakuannya ke gue
beberapa jam yang lalu begitu membekas. Romantis? Menurut gue iya. I really
love it. Rasanya gue pengen telepon dia sekarang. Pengen ngobrol lagi sama dia.
Pengen dengar dia nyanyi lagi. Tapi perasaan 'aneh' yang meluap-luap ini
berusaha gue tahan. Alif pasti masih tidur sekarang dan gue nggak mau bangunin
dia.
Tapi gw gak bisa menahan
untuk nggak membalas WA dia.
Gue : tenkyu, Alif. Gue
kebangun nih. Gue rasa lu msh tidur. Mimpi indah ya
Faktanya, gue berharap
dia udah bangun atau dia terbangun karena nada pesan gue barusan terus langsung
telepon gue.
Gue benar-benar
berharap. Ini gila!
***
Perlakuan Alif sama gue
jadi baik. Sangat baik malah. Pernah sekali dia ngajak gue jalan-jalan, bukan
hanya gue sih ada Abby sama Anis juga, tapi gue seneng. Ngajakin gue pulang
bareng. Jenguk gue saat lagi sakit. Beliin gue makanan, walaupun itu Cuma
permen. Tapi gue tetep suka.
Hari-hari begitu cepat,
kedekatan gue sama Alif jadi terus bertambah. Dan akhrinya gue sadar perasaan
kagum yang dulu gue punya udah semakin pupus, berganti dengan perasaan yang
lain. Perasaan ini datang tanpa bisa gue cegah. Rasanya gue udah jatuh dan
cinta sama sosok Alif.
***
###
Kau
harus bisa
Bisa berlapang dada
Kau harus bisa
Bisa ambil hikmahnya
Karena semua
Semua tak lagi sama
Walau kau tahu dia pun merasakannya
Bisa berlapang dada
Kau harus bisa
Bisa ambil hikmahnya
Karena semua
Semua tak lagi sama
Walau kau tahu dia pun merasakannya
###
Hari ini kami semua
sedang latihan silat di GOR kecamatan bersama sekolah SMA lain.
“Eh,
eh, Putri cantik banget yaa..” Alif mengungkapkan kekegumannya kepada seseorang
diujung sana. Yang ternyata orang itu tersenyum balik padanya.
“Hah? Putri yang mana?”
Tanya Abby yang tertarik dengan perkataan Alif barusan, dia mencari-cari
seseorang yang disebut Alif.
“Itu yang itu.. Yang
pake celana training biru, dari SMA lain. Cantik yaa..” Jawab Alif, sepertinya
dia sangat senang.
“Oh.. yang itu..” Ujar
gue ikut nimbrung. “Kenal dari mana?”
“Tadi di kantin pas mau
beli makanan. Eh kan gue nggak sengaja ngobrol-ngobrol terus kenalan deh.”
“Oh… Hehehe.”
Ada sedikit rasa
terbakar dihati gue. Tapi gue belum yakin rasa apakah itu.
“Denger-denger sih kata
temennya dia itu wakil ketua OSIS. Hebat ya..”
Gue perhatiin setiap
detail wajah Alif. Caranya bicara. Wajahnya yang mengagumkan. Senyumannya yang
menunjukan lesung pipit di pipi kirinya itu.
“Eh, Putri!” Seru Alif.
***
Aku adalah sekuntum bunga
Wangiku tak seharum Melati
Bentukku tak seindah Mawar
Aku adalah sekuntum Bunga
Matahari
Aku selalu menghadap sang
Matahari
Menikmati setiap detik dan
momen
Saat-saat dimana merasakan
hangatnya tatapan matahari
Menatapnya dengan senyum yang
selalu tersungging
Berharap kalau-kalau dia
melihat senyumku walau sekilas
Tapi aku hanyalah Bunga
Matahari
Aku dan Matahari adalah dua hal
yang berbeda
Sejagat raya ini membutuhkannya
Sedangkan aku,
Aku sama sekali tidak penting
Dan sudah jadi takdir
Matahari berpasangan dengan
Rembulan
Aku tertawa dan terus tertawa
Sulit sekali untuk berhenti
Mentertawakan kebodohanku
sendiri
Maka,
Aku mulai tertawa sambil
menangis
Untuk sekuntum Bunga Matahari
yang rendah ini
Apalah jika dibandingkan dengan
Rembulan?
Ya... Inilah aku
Bunga jelek yang dengan
tololnya berusaha menyaingi Rembulan
Untuk sekuntum Bunga Matahari
Yang ditakdirkan hanya bisa menatap
Matahari
Dari jauh
Bukan untuk memilikinya
Gue baru beres baca
puisi karya temen SMP yang dia posting diblognya.
Ini minggu ketiga kami
latihan gabungan di GOR.
Sekarang gue lagi di
kantin, waktu istirahat, menikmati batagor, sendirian. Tadi gue ngajak Abby
tapi dia malah ke wc, mules katanya. Sedangkan Alif, dia langsung menghilang,
entah kemana.
Gue beranjak dari
tempat duduk, perut gue tiba-tiba mules sehabis baca puisi tadi. Bukan karena
puisinya ya! Mungkin tadi gua makan batagor numpahin sambelnya terlalau banyak.
Gue secepat kilat berlari menuju wc perempuan yang letaknya bersebelahan dengan
sebuah taman.
Gue menghentikan
langkah kaki, sebuah suara yang gue kenal membuat gue urung pergi ke wc,
melupakan rasa mules yang tiba-tiba hilang.
“Aku tau ini terlalu
cepet. Kamu mungkin berpkir aku berlebihan. Aku tau kita beru kenal tiga
minggu. Tapi, aku tidak tahan lagi untuk tidak bilang.”
Pembicaraan ini memang
nyata.
Senyata dengan dada gue
yang terasa sesak melihat Alif dan Putri sedang duduk di bangku taman, berdua.
“Aku tidak tau kapan
perasaan ini datang. Mungkin sejak pertama kali kita bertemu.” Alif tersenyum,
menatap Putri dengan penuh perasaan.
Tidak. Semua ini
sungguh tidak beres. Gue yang menguping pembicaraan mereka dibalik pohon besar
hanya bisa bergetar, menatap nanar.
“Aku… Aku mencintaimu,
Put.” Alif perkata pelan.
Putri menatap balik
Alif, matanya berkaca-kaca. Perlahan dia anggukan kepalanya.
Gue mendekap telinga.
Gue nggak kuasa lagi
berdiri dibalik pohon ini.
Ya Tuhan, andaikan gue
menghilang. Pergi dari semua kehidupan ini.
Sekejap gue berlari
bagai kesetanan meninggalkan tempat gue bersembunyi. Terhuyung, tersandung akar
pohon, gemetar berdiri. Dan secepat kilat berlari mengambil tas dan segera
pergi meninggalkan GOR.
***
“Apakah gue punya kesempatan, Lif?”
Alif hanya menatap
tersendu. Menunduk. Diam.
“Gue tidak akan pernah punya kesempatan. Gue tau itu.” Gue
mengangguk pelan, menyeka mata yang memerah. Mengerti semuanya.
Itu hanya percakapan
angan-angan. Tidak pernah terjadi. Kalaupun terjadi, bukankah demikian pula
yang akan terjadi.
Tidak ada lagi yang
bisa gue lakukan, bukan?
***
Alif, dia adalah laki-laki
yang mampu membuat gue jatuh cinta hingga sedalam ini, gue pernah baca quote di
internet yang isinya seperti ini, “The hardest part of loving someone is
knowing when to let go, and knowing when to say goodbye”. Mungkin gue memang
hanya bisa mengagumi tanpa harus memiliki lu, Lif. Tidak apa-apa jika gue
memang tidak bisa menjadi seseorang yang lu sayangi. Karena gue sadar cinta
memang tak harus memiliki.
***
Apa
yang salah dengan lagu ini
Kenapa kembali ku mengingatmu
Seperti aku bisa merasakan
Getaran jantung dan langkah kakimu
Ke mana ini akan membawaku
Reff:
Kenapa kembali ku mengingatmu
Seperti aku bisa merasakan
Getaran jantung dan langkah kakimu
Ke mana ini akan membawaku
Reff:
Kau
harus bisa
Bisa berlapang dada
Kau harus bisa
Bisa ambil hikmahnya
Karena semua
Semua tak lagi sama
Walau kau tahu dia pun merasakannya
Di jalan yan setapak kecil ini
Seperti ku mendengar kau bernyanyi
Kau tahu
Kau tahu
Rasaku juga rasamu
Bisa berlapang dada
Kau harus bisa
Bisa ambil hikmahnya
Karena semua
Semua tak lagi sama
Walau kau tahu dia pun merasakannya
Di jalan yan setapak kecil ini
Seperti ku mendengar kau bernyanyi
Kau tahu
Kau tahu
Rasaku juga rasamu
Ke mana ini akan membawaku
Aku takkan pernah tahu
Mengirim cahaya untukmu
***
SELESAI

Komentar
Posting Komentar