Cinta Dalam Diam



Cerita ini hanya fiktif belaka, namun tak lepas dari kisah hidup penulis.


Selamat membaca
~~~


Cinta itu aneh. Terkadang membuat manusia bingung akan dirinya.
~~~
            Ini dia, hari dimana para pelajar mengikat tali sepatu merekan sambil menggerutu, Senin.
            “Fahmi!!! Bangun!!!”
            Siapa lagi? Dia kakakku. Satu-satunya saudara yang aku punya, aku biasa memanggilnya Bang Rizki. Dia kakak yang baik menurutku, meski dibeberapa kesempatan dia memang menyebalkan. Aku selalu dijadikan bahan suruhannya saat dia memerlukan sesuatu. Dia bilang ‘adik yang baik kalau disuruh jangan membantah’. Kini kalian tahu kan jika adik memang selalu dijadikan korban. Namun begitu, Bang Rizki sosok kakak yang mengayomi adiknya. Dia kuliah sekarang, usianya beda lima tahun dariku, dia 22 tahun.
            “Iya bang, ini juga sudah bangun.” Balasku.
            “Yaudah cepetan sarapan. Abang mau ketemu dosen pagi-pagi.”
            “Bentar.”
            Aku ambil jam tangan yang terletak dimeja. Jam 06.00. Setiap berangkat sekolah aku selalu diantar Bang Rizki, Ayah belum mengizinkanku untuk membawa motor, tunggu sampai lulus SMA katanya. Bagiku nggak masalah, toh ini untuk kebaikannku juga.
***
            Setengah perjalanan, aku merapatkan tubuhku pada Bang Rizki. Cepat sekali dia mengendarai motor.
            “Bang, jangan ngebut-ngebut. Lu kalau mau cari mati sendiri aja, jangan bawa-bawa gue.”
            “Abang harus cepet-cepet ke kampus, de. Nemuin dosen pembimbing buat skripsi nanti.”
            “Ngebut yang wajar aja, kaya gini mah cari mati. Sayang skripshit apa sayang nyawa?”
            Bang Rizki tidak mendegarkanku, dia malah menambah kecepatan. Beruntung jalanan lumayan sepi. Hingga sampailah kami didepan sekolahku.
            “Nanti ade laporin ke Ayah kalau abang kebut-kebutan dijalan.” Ancamku sambil menyerahkan helm.
“Hahaha.. Sana masuk. Belajar yang semangat ade manis.” Bang Rizki mengacak lembut rambutku, tertawa.
“Shit.” Aku tepis tangannya.
Setelah mencium tangannya, berpamitan, lalu segera berlari menuju kelasku yang terletak dilantai dua, XI MIPA 2.
“Eh, ayang bebep datang juga akhirnya..” Sambut Syeha didepan kelasnya yang memang bersebelahan dengan kelasku, XI MIPA 3.
“Astagfirullah, gimana mau memperbaiki keturunan kalau yang ganteng suka sama yang ganteng lagi.” Sahut Rini yang melihat Syeha merangkulku sambil melakukan salam cipika-cipiki.
“Eh, yeiy diem aja ya. Nggak usah ganggu kita.” Ucap Syeha dengan logat seperti banci.
“Aamiin Ya Allah..” Timpal Rini.
“Aamiin.”
“Aamiin.” Balas teman-teman yang melihat tingkah Syeha. Mereka mengaminkan supaya Syeha jadi banci beneran. Haha…
“Amit-amit. Becanda kali.” Teriak Syeha sambil mengetuk-ngetuk lantai dan kepalanya.
Kami semua tertawa terbahak.
“Eheemm!” Terdengar suara parau yang mengagetkan kami. Suasana yang tadinya ramai langsung lenyap seketika.
“Pagi-pagi udah bikin ribut. Ayo cepetan ke lapangan. Kita upacara bendera.” Ujarnya tegas.
Dia adalah Pak Dadi, Wakasek kesiswaan dan guru mapel Kimia.
Anak-anak langsung berhamburan, bukan karena takut terlambat atau semangat untuk upacara. Tapi karena Pak Dadi ini termasuk guru ‘killer’.
“Fam, nanti istirahat pertama kita ngobrol ditaman ya.” Syeha menepuk pungggung.
Aku mengangguk dan segera masuk ke kelas untuk menyimpan tas. Sambil mengenakan jas almamater dibawah tatapan Pak Dadi aku berlari ke lapangan.

***
###
Jujur saja ku tak mampu
Hilangkan wajahmu di hatiku
Meski malam mengganggu
Hilangkan senyummu di mataku
Ku sadari aku cinta padamu

Meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintamu yang terbaik

Jujur saja ku tak mampu
Tuk pergi menjauh darimu
Meski hatiku ragu
Kau tak di sampingku setiap waktu
Ku sadari aku cinta padamu

Meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintamu yang terbaik

Oh meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintamu yang terbaik

Oh meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik (cintaku yang terbaik)
Tapi cintaku yang terbaik (cintaku yang terbaik)
Tapi cintaku yang terbaik
###
            “Lu kok sekarang jadi hobi nyanyi lagu galau sih, Fam? Heran gua.”
Syeha langsung duduk disebelahku. Ditangan kanannya menjinjing kresek hitam berisi dua porsi seblak dan ditangan kirinya ada dua buah botol minuman teh. Kami sekarang sedang berada ditaman sekolah.
Tadi sambil menunggu Syeha membeli jajanan—dia yang yang traktir, aku iseng memainkan sebuah lagu dengan gitar yang aku pinjam dari teman sekelas. Dan yang terlintas dikepalaku adalah lagu Cinta Terbaik dari Cassandra.
“Suka-suka gua lah..” Aku segera menyantap seblak.
 “By the way, lu mau ngomong apa, Syeh?” Ucapku sambil berhah kepedasan. Sebenarnya aku tidak terlalu suka makanan bercitra rasa pedas, tapi seblak itu pengecualian. Makanan favorit setelah mie ayam.
“Nggak ada kok, gua Cuma kepingin sama lu aja sih.”
            Aku mengernyit, bingung. Maksudnya?
“Ya karena akhir-akhir ini lu keliatan sibuk banget. Gua ajakin main tapi lu selalu berkilah.” Syeha melanjutkan.
“Siapa yang sibuk? Yang ada lu kali. Sibuk sama pacar lu. Tiap kali ngajak gua main pasti pacar lu dibawa juga. Gua sadar diri lah, ogah jadi obat nymauk.”
Syeha malah tersenyum. “Trus lu cemburu ya? Sorry deh gua nggak peka kalau pacar gelap gua ini jadi cemburu.” Syeha memiting kepalaku diantara kedua ketiaknya, lalu mengacak kasar rambutku.
“Shit! Oyy.. Lepasin gua, Syeh! Njirr, ketiak lu bau.” Aku memberontak. Tidak terima diperlakukan seperti ini.
Syeha melepas cengkramannya. Dia manatapku dengan tatapan yang menurutku itu menjijikan. “Sorry ya beb.. Hehehe.”
“Najis jangan natap gua kaya gitu. Lagian ogah gua malah dijadian pacar gelap.” Aku merapihkan rambutku yang berantakan.
“Lu sih sms gua semalam nggak dibalas, cuma diread doang. Sakitnya tuh disini.” Syeha memegang dada kananya.
“Sekalian aja lu joged Sakitnnya tuh disini.”
            “Jiah nggak bisa.”
“Penting baget balasan gua?”
“Iya dong. Gimana gua mau tahu lu marah apa nggak kalo nggak dibalas.”
“Biarin dong. Kenapa emang?”
“Gua nggak mau lu marah sama gua.”
“Yaudah, siapa juga yang marah.”
“Beneran? Gitu dong.”
“Ya. Berskan? Nggak ada yang mau diomongin?”
“Jadi, lu nggak marah kan?”
“Ya kagaklah.”
Untuk sesaat kami hanya bisa diam, lalu tertawa bersama.
“Ini, lu abisin aja seblak punya gua. Udah kenyang.” Syeha menodorkan seblaknya yang baru dimakan seperempat, tentu saja aku menerimanaya dengan senang hati.
Syeha mengambil gitar yang tadi aku pakai. Membunyikan nada, dia akan bernyanyi.
###
Aku takut tidak bisa melumpuhkan dinding hati
yang lama ku cintai, ku takut terbawa mati
aku takut tidak mampu merobohkan dinding hatimu
aku takut engkau pergi dan tak mengingatku lagi
###
            Aku tersentak, lagu ini..
###
Reff:
Sampai kapan ku harus menunggumu jatuh di pelukanku
berikan peluang untukku untuk memilikimu
sampai kapan ku harus memintamu menjadi pelengkapku
mungkinkah takdir telah berbicara, engkau takkan ku miliki

Repeat Reff

Mungkinkah takdir telah berbicara, engkau takkan ku miliki
aku takut tidak mampu meluluhkan dinding hatimu
###
***
            “Lagi apa lu, de?” Bang Rizki tiba-tiba sudah berada disampingku yang sedang tiduran dikamar. Kapan dia masuk?
            “Shit! Masuk nggak izin dulu.” Desisku sebal.
“Ciee, yang whatsapp-an..” Bang Rizki menjulurkan kepalanya ke layar handphoneku. Langsung saja aku menjauhkan dari pandangannyaa.
“Sama temen ya?” Suaranya terdengar ngeledek.
“Pacar!”
“Jeh, Pacar?! Sama cewe aja lu nggak berani..” Dia tertawa terbahak.
“Siapa bilang sama cewe?”
“Terus?”
“Cowo!”
“Baka!” Bang Rizki menjitak kepalaku.
Aku tertawa.
“Homo lu?”
“Homo sapiens!” Sekarang giliram aku yang menjitak kepalanya. Impas.
“Shit! Gua ini kakak lu de.”
“Ya terus..”
“Berarti lu adik abang.”
“Nenek-nenek main facebook juga tahu.”
“Nenek siapa yang main fb?”
“Nenek anjarwati.” Jawabku sambil berlalau keluar. Sepertinya aku harus mencari tempat lain supaya tidak diganggu lagi.
Tiba-tiba wajah dia terlintas dipikiranku…
###
I drove by all the places we used to hang out getting wasted
I thought about our last kiss, how it felt, the way you tasted
And even though your friends tell me you're doing fine

Are you somewhere feeling lonely even though he's right beside you?
When he says those words that hurt you, do you read the ones I wrote you?

Sometimes I start to wonder, was it just a lie?
If what we had was real, how could you be fine?

'Cause I'm not fine at all

I remember the day you told me you were leaving
I remember the make-up running down your face
And the dreams you left behind you didn't need them
Like every single wish we ever made
I wish that I could wake up with amnesia
And forget about the stupid little things
Like the way it felt to fall asleep next to you
And the memories I never can escape

'Cause I'm not fine at all

The pictures that you sent me they're still living in my phone
I'll admit I like to see them, I'll admit I feel alone
And all my friends keep asking why I'm not around

It hurts to know you're happy, yeah, it hurts that you've moved on
It's hard to hear your name when I haven't seen you in so long

It's like we never happened, was it just a lie?
If what we had was real, how could you be fine?

'Cause I'm not fine at all
###
Bahkan menyayangi dari kejauhan dan mencintai dalam diam terkadang itulah yang paling terbaik untuk memiliki seseorang dalam artian sepenuhnya.
###

If today I woke up with you right beside me
Like all of this was just some twisted dream
I'd hold you closer than I ever did before
And you'd never slip away
And you'd never hear me say

I remember the day you told me you were leaving
I remember the make-up running down your face
And the dreams you left behind you didn't need them
Like every single wish we ever made
I wish that I could wake up with amnesia
And forget about the stupid little things
Like the way it felt to fall asleep next to you
And the memories I never can escape

'Cause I'm not fine at all
No, I'm really not fine at all
Tell me this is just a dream
'Cause I'm really not fine at all
###
“Sok-sokan nyanyi lagu galau.”
“Rese lu bang. Ganggu orang aja kaya yang nggak punya kerjaan.”
“Ngambek dia. Lu tuh yang nggak punya kerjaan mah. Ngapain coba main gitar diluar malam-malam. Diapelin mbak kunti tau rasa lu.”
“Nyari angin.”
“Angin kok dicari-cari. Nanti masuk angin lho.”
“Biarin. Biar dikata orang pintar.”
“Kok?”
“Iya, kan orang pintar minum t*lak ang*n.”
“Ada-ada aja kamu, de.” Ban Rizki mengacak rambutku.
“Shit!” Aku menepis tangannya dari rambutku.
“Lagi galau ya?” Tanyanya sambil duduk disampingku.
“Dukun!”
“Jeh! Abang ini dari kamu umur empat tahun udah sering main bareng. Udah tagu sifat-sifat kamu. Ngapain coba bohong segala.”
“Kalau udah tahu ngapain coba nanya?”
“Patah hati nih ceritnya?
“…”
Hening sejenak.
“Yaudah, nggak apa-apa kalau nggak mau cerita. Tapi nanti jangan sungkan-sungkan curhat sama abang.”
Aku hanya tersenyum tipis. Tanganku asal memetik senar gitar, membunyikan nada.
“Ikut abang yuk, de?”
“Kemana?”
“Alun-alun kota. Denger-denger nggak jauh dari sana ada kedai ice cream yang baru buka.”
“Traktir.” Aku nyengir sambil menaik-turunkan kedua alisku.
“Iya-iya.”
“Oke siap! Bentar ade nyimpen gitar dulu.”
“Sekalian ambilin jaket abang yang warna item di kamar.”

***
Semilir angin malam menyapu wajah . Dengan kecepatan sedang, sepeda motor yang dikendarai Bnag Rizki melaju ke arah Alun-alun kota.
Sepanjang jalan disuguhkan lampu-lampu pembatas jalan yang cantik di kiri dan kanan serta trotoar yang tertata rapi dan lebar.
Alun-alun kota merupakan salah satu tempat nongkrong warga. Tempatnya luas. Disepanjang pinggir alun-alun dipayungi pepohonan rindang yang dibawah setiap pohon terdapat kursi semen. Disepanjang itu pula banyak warga yang berjualan makanan.
Bang Rizki memarkirkan motor disamping kedai yang tadi dia ceritakan. Letak kedai ini cukup stategis, tepat disamping pintu masuk menuju alun-alun. Selain itu juga diseberang jalan terdapat sekolah SMK dan SD. Tempat ini lumayan nyaman, terdapat kursi-kursi yang berjejer rapih dan cat tembok yang dominan warna pink. Selain menjual ice cream disini juga menjual sosis bakar.
“Lu mau apa. De?” Tanya Bang Rizki begitu kami duduk. Beruntung tempat ini sepi pengunjung. Aku kurang nyaman kalau berada dikeramaian.
“Yang mahal, Bang.” Jawabku sambil nyengir.
“Cih.”
“Jangan gitu dong sama adik sendiri. Katanya tadi traktir.”
“Yelah-yelah. Selagi abang baik malam ini. Tapi pulang dari sini, pijitan abang ya.”
“Dih, kok gitu.”
“Adik yang baik kalau disuruh jangan ngebantah.”
“Iya-iya.”
“Mau rasa apa?”
“Coklat.”
“Oke! Bentar abang pesen dulu.”
“Bang?!”
“Iya?”
“Sekalian sama sosis bakarnya ya. Hehe…”
“Hadeuh… Iya-iya.” Bang Rizki beranjak dari tempat duduk.
Gini enaknya jalan sama Bang Rizki. Apa yang aku mau pasti dia turutin.
Sambil menunggu Bang Rizki yang lagi memesan makanan, aku iseng membuka akun facebook. Ada empat notifikasi, tapi belum sempat aku klik, Bang Rizki sudah mengagetkanku.
“Hayo lagi buka apa?”
“Dih kepo deh.” Aku segera mengeluarkan aplikasi facebook dan mengantongi hp. Nggak aman kalau main hp didepan dia, selalu kepoan.
“Eh bang, lu liat deh orang disana.”
“Yang mana?”
“Itu yang disebrang jalan, cewe pake baju biru sama cowo..” Tunjukku.
“Iya gua liat, Kenapa?”
“Kayanya mereka lagi pacaran deh. Kira-kira mereka lagi ngobrolin apaan ya?”
“Paling si cowo ngegombal.”
“Dukun!”
“Liat aja si cewe senyum-senyum tersipu gitu. Nah, kalau yang diseberang kaya cabe-cabean ya?”
Aku melihat ke arah yang ditunjuk Bnag Rizki. Ada tiga makhluk cewe ABG sekitar usia 15-an. Lagi ngobrol dengan gerak-gerik centil.
“Pas banget. Ada cebe-cabean dan ada terong-terongan.” Aku mengarahkan telapak tangan ke arah Bang Rizki.
“Dan lu terong dicabein.”
“Enak dong. Terong balado.”
“Eh tapi, kok mereka pake kerudungnya gitu? Model apaan itu?”
“Itu namanya jipon.”
“Dih, ada-ada aja. Niat nggak sih mereka pake kerudung itu. Poninya ampe keliatan gitu.” Bang Rizki memfoto mereka dengan hpnya.
“Udahlah, biarin aja. Mereka kalau dinasehatin juga pasti ngeyel. Bilang jangan ikut campurlah, yang penting berkerudunglah.”
“Ada makhluk yang kaya gitu?”
“Ada. Namanya cabe syar’i.”
“Cabe syar’i.”
“Iya! Sebutan buat cewe berkerudung jipon dan kelakuan kaya cabe-cabean. Haha…” (Buat para cabe syar’i, maaf ya. Anggap aja ini sindiran yang basi. Hehe.. ^^;)
“Ada-ada aja lu mah. De.”
Obrolan kami terhemti, pesanan sudah diantar ke meja. Dua porsi roti bakar ice cream dan satu porsi sosis bakar jumbo. Bang Rizki baik banget deh. Hahaha…
Entah Berapa lama aku dan Bang Rizki nambah timbunan dosa disana (secara ngomongin orang), ice cream dan sosis bakar sudah habis. Lalu kami memutuskan buat pulang.
***



SELESAI
 



Thanks udah mau baca sampe akhir.

Gimana ceritanya? Garing ya?! *down*
Ditunggu feedback-nya, karena pembaca yang baik selalau memberikan kritikan dan saran, bukan hanya jadi seorang silent reader dan maksa buat cepet nulis, giliran disuruh nulis malah gk mau. Hehe...

Salam,
Fahmi  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mt.Gede 2.958 mdpl

Dalam Bayangmu - Chapter 4

Lapang Dada