Dalam Bayangmu - Chapter 4



Baca chapter 3, disini

Chapter 4


Akan ada saat dimana kejenuhan mulai tumbuh dalam hubungan kita, disaat itu akan hadir sosok yang bisa membuatmu merasa nyaman, yang jika kau selami akan menghancurkan keindahan yang kita ciptakan bersama.
~~~
                Dahulu, kita pernah sama-sama menguatkan. Pernah sama-sama takut kehilangan. Kamu adalah seseorang yang kucintai dengan sangat. Sementara bagimu aku adalah seorang yang kamu inginkan berlama-lama denganmu.

                Namun kini seolah sedih dan sepi adalah teman sejalan. Aku sudah tidak bisa melihat sorot matamu yang mendamaikan. Hangatnya tubuhmu yang mampu mengusir segala sedih dan kesepian.

                Katamu, apapun yang terjadi, banyaknya cobaan yang kita hadapi, kamu memintaku untuk tetap bersamamu. Bersama kita melewati segala yang terjadi. Bersama. Saling menguatkan. 

***

                “ARGGHH!!!”

                “Bang, istigfar, bang.” Arnesh-adikku, tangannya memegang ubun-ubun kepalaku. 

                “Ah, setan! Kaluar sia diawak abang aing.” 

    Aku langsung menepis tangannya. “Dikira abang kesurupan apa, hah!”

                “Lagian malah teriak gak jelas.”Arnesh tertawa cekikikan, dia kembali memetik gitar yang tadi terhenti.

Aku butuh tahu seberapa kubutuh kamu
Percayalah rindu itu baik untuk kita

                "Lagu t*i!" dengusku.

                Sudah sebulan semenjak Astra  meminta break. Dan lagu ini entah kenapa mengingatkanku pada permintaan Astra.“Kasih aku ruang sendiri dulu. Jangan hubungi aku dulu. Kasih aku kesempatan buat kangenin kamu."

                “Galau mulu. Cewe kaya gitu masih aja ditunggu.” Timpal Arnesh terdengar sinis.

                “Dia Cuma butuh waktu buat sendiri. Saat dua orang lelah yang diperlukan hanya menikmati jeda.”

                Arnesh meletakkan punggung tangannya dikeningku, lalu tangannya yang satu lagi memegang pantatnya.

               “HAHAHA… dasar sarap.”

***

   “Ian, gua mau nanya sama lu dehh. kata Rizki-sahabatku, disela jam istirahat kerja.

   “Kenapa, Riz?" tanyaku datar.

   “Lo sama Astra masih pacaran, kan?"

            "Masih lah. Kenapa memang?"

            I wish.

   “Oh, berarti itu temennya kali ya.

   “Hah? Kenapa emang?

   “Gak, minggu lalu atau kapan gitu gua lupa, malem-malem pas gua abis main futsal kayak ngeliat Astra lagi nunggu seseorang. Eh pas gua perhatiin, ada cowok gitu nyamperin, dia langsung ngerangkul Astra. Trus mereka langsung cabut entah kemana.

   “Ah, dia kalau sama temen deketnya emang suka gitu, hehehe.

   “Oh, gua kira. Hehehe.

           Okay, aku berpura-pura tegar. Jadi apa ini yang  kamu bilang butuh ruang buat bebas sendiri?
Kembali terngiang permintaan Astra saat menangguhkan keinginannya putus denganku. Dia bilang,
"Adrian kita break aja dulu. Tapi kamu jangan chat aku dulu, jangan dulu deketin aku. Tunggu aku yang kangen kamu. Please, aku cuma butuh ruang sendiri. Biar aku tahu sebarapa besar rasa ini sama kamu..."

***

You and me, we made a vow
For better or for worse
I can't believe you let me down
But the proof's in the way it hurts
  
Aku tahu rumahmu.
 
Aku tahu dimana kamu tinggal. Keluargamu. Tetanggamu.

Aku tahu.

Jangan salahkan aku menantimu dalam gelap malam ini.

Stalker?

Aku gak tau pasti. Yang jelas aku menanti di depan rumahmu. Rumah tetanggamu, tepatnya. Aku cuma ingin melihatmu. Aku rindu. Bolehkan?

Tapi Astra,

Siapa dia?

Siapa yang baru saja mengantarmu pulang? Siapa yang kau peluk sangat erat di atas motornya barusan? Siapa?

Putra! Sayup-sayup kudengar kamu meneriaki namanya.

Aku sayang kamu.

***

To be Continued~

 Disclaimer:

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh, lokasi, dan jalan cerita yang banyak dramanya, tentu aja karena disengaja. Apabila ada kejadian yang dirasa sama, jangan tersinggung, bukan berarti saya sedang nyinyirin anda, bisa jadi nasib kita sama.
Hatur Tengkyu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mt.Gede 2.958 mdpl

Lapang Dada