Dalam Bayangmu - Chapter 5



Chapter 5


Cinta itu bukan hanya perkara kau dan aku bersama. Namun bagaimana cara menghargai sebuah rasa yang ada, menghargai setiap pertengkaran yang terjadi, menghargai akan karakter dari pasangan, menghargai segala perbedaan yang ada, dan mengerti bahwa kata "Putus" tidak bisa diucapkan lewat emosional tinggi dan keegoisan.
~~~

Kamu tahu gak, selepas aku tahu soal hubunganmu dengan laki-laki bernama Putra itu aku hanya bisa memendamnya sendiri. Gak, aku gak akan kasih tahu kamu. Karena aku yakin kamu pasti kembali.

Tapi,

Kenyataannya, sudah sebulan berlalu. Kamu dan ruang sendiri-mu, oh, mungkin lebih tepatnya, kamu dan selingkuhanmu, hidup berbahagia tanpa pernah sekalipun menoleh ke belakang. Menoleh kepadaku yang masih menunggumu. Mengharapkanmu.

Jika aku mengembalikan pertanyaan ini ke kamu, aku sudah bisa menebak jawabannya.
"Kamu kangen gak sama aku?"

***

Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada status
Semua orang tahu bila kita sepasang kekasih
Namun status tak menjamin cinta
~~~

"Hai, Astra..."

Seharusnya aku, yang kamu genggam seerat itu. Seharusnya aku, yang ada di sisimu di tempat favorit kita, dulu. Ingatkah kamu kalau kita masih terikat status? Ah, bener kata Maudy Ayunda, untuk apa status, kalau hatimu sudah berpaling?

"Iii.. Ian.. kok...?"

Aku tersenyum.

Melihatmu terkejut dan berusaha melepaskan genggamanmu dari Putra. Melihat lelakimu berada dalam sejuta tanda tanya. Ah, mungkin jika semesta mempertemukan kita sebulan lalu dalam adegan seperti ini. Dimana aku tanpa sengaja menemukanmu bersamanya. Seseorang yang kamu sangat dambakan saat ini, yang membuatmu lupa akan keberadaanku, yang membuatmu meninggalkanku, mungkin aku akan langsung melayangkan tinjuku padanya. Bisa saja aku akan melukainya tanpa ampun. Tapi sekarang, aku hanya ingin tersenyum.

Pikiranku melayang.

Kembali ke masa-masa dimana semua perjuangan yang telah aku lakukan untukmu. Untuk membahagiakanmu. Memberikan hadiah terbaik yang bisa aku berikan padamu, yaitu waktu.

Selama ini, kamu prioritasku.

Kamu ingat?

Aku rela menanti berjam-jam untuk bisa berduaan denganmu. Berduaan saja. Meski akhirnya, aku cuma melihatmu asyik dengan ponselmu. Siapa yang kamu hubungi? Aku gak mau tahu. Aku gak perlu tahu. Aku juga tak pernah berniat melihat ponselmu. Aku percaya kamu. Bukankah cinta itu saling percaya?

Meski selalu, kamu yang tak percaya padaku. Memeriksa ponselku tiap saat bertemu. Insecure. Tapi pada akhirnya, justru kamu yang meninggalkanku. Pergi bersama lelaki lain. Tanpa pernah kutahu alasannya.

Mungkin aku yang tak peka atau tak pandai membaca tanda. Bahwa kamu bukan milikku lagi sejak lama. Hatimu, bukan untukku lagi. Bahwa aku bukan prioritasmu. Tak ada lagi aku di hatimu. Tak ada lagi kita. Haruskah aku bertahan atau menerima kenyataan?

"Semesta yang mempertemukan kita dulu. Semesta juga yang mempertemukan kita kini."

Kataku mantap. Masih terus tersenyum. Sambil mendekati kamu. Wajahmu mulai memerah. Mungkinkah kamu malu? Merasa jahat? Atau, kasihan padaku?

Tenanglah, melihatmu lagi, justru membuatku kuat. Membuatku tegar. Aku sendiri tak tahu.

"Semoga kalian selalu berbahagia ya..."

Aku menyalamimu. Menyalami kekasihmu. Menyalami kalian yang masih tertegun tak berdaya dan tak tahu apa-apa.

Aku pergi. Karena memang seharusnya aku yang pergi. Karena kamu takkan pernah menangisiku. Aku pergi. Membawa luka hati sembari mengikhlaskanmu berbahagia, bukan bersamaku, tapi bersamanya.

***

                To be continued~

A/N:
Fiuh~
Akhirnya kita tiba di chapter terakhir dari kisah seorang Adrian. Gimana nih buat kalian yang baca, apa sudah puas? Atau malah kecewa karena tidak sesuai dengan ekspetasi yang kalian harapkan? Hehe...
Tenang. Buat kalian yang merasa belum puas atau kecewa bakal ada chapter Final-nya kok.
Jadi, tongkrongin terus blog gaje ini yaaa~

 
Disclaimer:

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh, lokasi, dan jalan cerita yang banyak dramanya, tentu aja karena disengaja. Apabila ada kejadian yang dirasa sama, jangan tersinggung, bukan berarti saya sedang nyinyirin anda, bisa jadi nasib kita sama.
Hatur Tengkyu.

Komentar