Cinta dan Rahasia
Cerita ini hanya fiktif belaka, kalau ada persamaan nama itu memang disengaja.
Selamat membaca!
~~~
Hari
ini aku harus bermalam di rumah sendirian. Tadi sore Ibu menelepon kalau kakek
masuk rumah sakit karena asmanya kambuh lagi. Jadi Ibu bersama Ayah langsung ke
rumah sakit selepas pulang kerja dan menyuruhku untuk menjaga rumah.
Untungnya
besok hari sabtu, di sekolahku hari sabtu itu diliburkan. Jadi aku sepertinya
akan begadang, selagi di rumah tidak ada siapa-siapa. Hahaha… if you know what
I mean.
Saat
sedang menonton tv sambal menikmati semangkuk mie ayam dan segelas es kelapa
muda, tiba-tiba handphoneku bergetar, ada panggilan masuk. Layar handphone
tertera nama Syeha.
“Hallo,
Syeh.” Sapaku langsung.
“Hallo,
Fam. Lu lagi ada dimana?”
“Gua
lagi ada di rumah. Kenapa?”
“Dasar
anak mami. Main keluar kek, jangan
ngebangke di rumah terus.”
“Eh
coeg! Gua disuruh jaga rumah.” Sahutku sebal.
“Haha..iya-iya.
Dasar satpam. Temenin gua nongkrong dong.”
“Ogah
ah. Udah malam.”
“Yaelah
masih jam setengah delapan. Mau ya, please.” Rengek Syeha terdengar menjijikan.
“Sama
pacar aja lu aja sono..”
“Dia
lagi sibuk ngurusin proposal buat pensi bulan depan. Mau ya? Nanti gua traktir
deh.”
“Hmm..
Yaudah-yaudah. Tapi jangan lama-lama.”
“Haha…
Oke! Gitu dong. By the way. Gua nggak disuruh masuk nih? Gua udah ada di depan
rumah lu, Fam.”
“Hah?!”
Aku
segera membuka pintu. Ternyata benar, Syeha sudah berada di depan rumah, duduk
manis diatas motornya sambil melambaikan tangan kearahku.
***
Aku
dan Syeha menuju BNR. Dimana lagi tempat nongkrong yang murah.
“Parkir
disini aja, Syeh. Nongkrong disitu.” Aku menunjuk ke sebuah warung, malam ini
cukup ramai dari biasanya.
Kami
kemudian duduk ditempat yang nyaman, sambil menunggu pesanan bakso datang—ini
Syeha yang pesan, aku hanya memesan segelas susu coklat panas, ingat tadi aku
sudah makan mie ayam.
Tak
berapa lama pesanan kami sudah datang. Syeha segera menyantap baksonya.
Mungkin
hanya ini satu-satunya tempat nongkrong yang membuatku nyaman. Banyak jajanan,
banyak anak muda yang asik bercengkrama dengan teman mereka.
Aku
memejamkan mata, menghirup nafas perlahan. Aku sangat menyukai suasana malam
seperti ini. Aku menatap bulan dilangit sana sambil membayangkan seseorang.
“Eh,
Fam. Lu jangan bengong natap bulan gitu. Jangan berlagak
seperti si pungguk yang merindukan bulan deh.” Kata Syeha seraya melahap
sebutir bakso segede bola pingpong.
Aku
hanya menatap Syeha sekilas, terseyum, lalu kembali menatap rembulan.
“Dih..
malah senyum lagi, ada apa sih diatas sana?” Syeha ikut-ikutan memandang ke
langit.
“Nggak
ada yang spesial.” Sahut Syeha, dia sepertinya menyerah melihatku yang terus
menatap bulan. Kembali menyantap bakso yang tinggal sedikit lagi.
Syeha
mengambil gitar yang dibawanya dari rumah, daripada bosan melihat sahabatnya
yang bengong menatap bulan dan baksonya sudah habis ia makan, lebih baik
memainkan sebuah lagu.
###
Kau
begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujimu
Di setiap langkahku
Ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujimu
Di setiap langkahku
Ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
###
Aku
menikmati suara Syeha yang mengalun merdu. Sambil memikirkan seseorang.
###
Janganlah
kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna.. Sempurna..
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna.. Sempurna..
###
Syeha
berhenti memetik senar gitar.
“Kok
berhenti, Syeh?” Tanyaku heran.
“Gua
ke toilet dulu ya, mules nih. Pasti gara-gara tadi gue numpahin sambelnya
kebanyakan.”
“Syukur
in.” Ledekku sambil merebut gitar dari tangannya.
“Ikut
nggak?” Tawar Syeha, mengkerlingkan matanya.
“Ya
nggak lah.”
Syeha
segera pergi ke toilet. Lebih baik aku bermain gitar sambil menunggu Syeha
selesai dengan urusannya.
Mengenai
musik, sebenarnya aku tidak terlalu jago memainkan alat musik. Hanya gitar yang
aku bisa. Dan ada satu lagu yang aku sukai.
###
I
know you're somewhere out there
Somewhere far away
I want you back
I want you back
My neighbors think I'm crazy
But they don't understand
You're all I had
You're all I had
At night when the stars light up my room
I sit by myself talking to the moon.
Trying to get to you
In hopes you're on the other side talking to me too.
Or am I a fool who sits alone talking to the moon?
Somewhere far away
I want you back
I want you back
My neighbors think I'm crazy
But they don't understand
You're all I had
You're all I had
At night when the stars light up my room
I sit by myself talking to the moon.
Trying to get to you
In hopes you're on the other side talking to me too.
Or am I a fool who sits alone talking to the moon?
###
Aku
berhenti sejenak. Lagu ini mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang
teramat sangat spesial. Dan, aku rasa aku memiliki perasaan padanya.
“Kok
nggak dilanjutin?” Kata seorang perempuan padaku, dia duduk bersebelahan,
umurnya mungkin sepantaran denganku.
Entah
siapa dia, aku tidak mengenalnya. Beberapa orang yang tak jauh dariku juga
melihat, seolah-olah mereka menungguku untuk melanjutkan lagunya.
Baiklah.
###
I'm
feeling like I'm famous
The talk of the town
They say I've gone mad
Yeah, I've gone mad
But they don't know what I know
Cause when the sun goes down
Someone's talking back
Yeah, they're talking back
The talk of the town
They say I've gone mad
Yeah, I've gone mad
But they don't know what I know
Cause when the sun goes down
Someone's talking back
Yeah, they're talking back
###
Ya,
aku memang sudah gila. Berawal dari sekedar mengagumimu. Tapi rasa ini datang
tanpa bisa aku cegah. Aku bingung, tidak berani mengungkapkan perasaan ini.
Hanya kepada bulanlah aku curahkan seluruh isi hatiku.
###
Ahh...
Ahh... Ahh...
Do you ever hear me calling?
(Ahh... Ahh... Ahh...)
Oh ohh oh oh ohhh
'Cause every night I'm talking to the moon
Still trying to get to you
In hopes you're on the other side talking to me too
Or am I a fool who sits alone talking to the moon?
Ohoooo...
I know you're somewhere out there
Somewhere far away
Do you ever hear me calling?
(Ahh... Ahh... Ahh...)
Oh ohh oh oh ohhh
'Cause every night I'm talking to the moon
Still trying to get to you
In hopes you're on the other side talking to me too
Or am I a fool who sits alone talking to the moon?
Ohoooo...
I know you're somewhere out there
Somewhere far away
###
“Eh,
kenapa? Kok nangis?” Tanya perempuan tadi dengan sedikit tepuk tangan.
Sementara
yang lain, yang sedari tadi memperhatikanku juga ikut sedikit bertepuk tangan.
“Hehe..
jelek ya suaranya?” ucapku sambil sedikit mengusap mata.
“Kata
siapa? Bagus kok.” Dia lalu mendekatiku sambil menjulurkan tangannya,
menyebutkan nama.
Aku
bals menjabat tangannya, meneyebutkan namaku.
“Hobi
nyanyi ya?” Tanyanya lagi.
“Nggak
terlalu sih,,”
“Suka
lagu apa lagi?”
“Kalau
dari barat, suka 5SOS – Amnesia, R City feat Adam Levine – Locked Away, The
Script – No Good In Goodbye sama The Man Who Can’t Be Moved, Air Supply –
Goodbye, Avril – When Your Gone, Daniel Bedeingfield – If You’re Not The One,
Miley Cyrus – I’ll Always Remember You, terakhir Bruno Mars _ Talking To The
Moon.” Jawabku panjang lebar.
“Lagu
melow semua itu ya?”
“Nggak
semua sih. Tapi lagu tadi yang memang jadi favorit.”
“Hmm..
kenapa tadi pas nyanyi Talking To The Moon kok malah nangis?” Tanya perempuan
itu (lagi). Dia seolah tak memberikan jeda diantara kami. Aku seperti artis
yang sedang menggelar konsferensi pers saja.
“Nggak
nangis kok. Cuma keinget sama sesuatu aja.”
“Keinget
pacarnya ya?”
“Bukan!
Bukan pacar, orang nggak punya pacar. Hehe..”
“Ohh..”
Dia tersenyum. “Nongkrongnya sendirian aja nih?”
“Tadi
sama temen. Tapi dia lagi ke toilet.”
“Ohh..”
Dia mengangguk. “Eh, udah ya. Aku mau ke temen-temenku dulu.”
“Iya.
Silahkan.”
Dia
pun meninggalkanku, mennghampiri teman-temannya.
Ku
lanjutkan memetik gitar ini. Sembari menunngu Syeha yang belum juga kembali.
###
Kucoba tepis semua rindukuKucoba hapus semua anganku
Berharap semua cepat berlalu
Khayalku tuk miliki dirimu
Lupakanmu..jauh
Tinggalkanmu dari hidupku
Bangunkanku dari mimpiku
Yakinkan semua ini hanya khayalku
Oh tuhan tolong jawab anganku
Rasa ini terus menyiksaku
Matikan cinta tuk harapan yang palsu
Yakinkan perih kan membunuhku
Jauh..
Tinggalkan mu dari hidupku
Bangunkanku dari mimpiku
Yakinkan semua ini hanya khayalku
###
Aku mengakhiri lagu dari ‘Looney Band – Khayalku’.
‘Selama ini yang aku lakukan hanya menyangkal perasaan ini. Kenapa harus kamu? Jika kamu bukanlah untukku?’
“Wezz.. hebat juga lu Fam main gitarnya. Baper tadi gua ngedengernya juga. Suara lu merdu banget.” Ucap Syeha yang entah datang dari mana, tiba-tiba sudah duduk disampingku.
“Lu boker dimana sih? Lama banget.” Ucapku terdengar ketus.
“Hehe.. sorry. Tadi gua beneran emang mules.”
“Terus habis ini mau ngapain lagi?”
“Hmm.. pulang aja yuk. Eh, Fam, gue bisakan nginep dirumah lu?”
“Ya bisa lah. Lu minta izin kaya ke orang lain aja.”
“Gua cuma takut aja, siapa tau malam ini mau ngelaksanain ‘ritual’ itu. Haha..” Syeha mengucapkan kata ritualnya dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya lalu dibengkokan bersamaan, seperti tanda kutip.
“*Baka!” Aku lempar wajah mesum Syeha dengan ranting pohon. (*baka=bodoh, jpn)
Segera ku bereskan semua barang-barang kami. Sementara Syeha mengambil motor untuk kemudian kami meninggalkan tempat ini.
SELESAI

Komentar
Posting Komentar