Elang dan Tegar
“Elang
itu kan nama burung. Pasti kamu bisa terbang kaya burung disana! Lihat… Wahhhh…
Seneng banget.”
Elang
memandang sahabatnya yang berbaring diatas pasir pantai. Tegar menunjuk burung
yang terbang dilangit tanpa menyadari Elang yang tertawa melihatnya.
“Nanti
ajak aku terbang juga. Awas kalau kamu lupa!! Aku nggak akan ngasih permen
lagi.”
Dilangit
sana terlihat pesawat terbang melintas. Tegar berdiri dan berlarian di sekitar
pantai.
“Heyyy…
Burung besi!!! Turun dong… Aku pengen
ikut.”
Tegar
melambai-lambaikan tangannya sambil melompat-lompat kearah pesawat. Elang
memandang keceriaan di wajah sahabatnya itu. Meskipun Tegar memiliki kecerdasan
dibawah anak-anak seusianya tapi dia memiliki hati bagaikan seorang malaikat.
Tegar
menatap wajah Elang dengan cemberut, matanta kini berkaca-kaca. Elang mengerti
perasaannya, dirangkulnya tubuh Tegar.
“Tiap
hari teriak, tapi merekang gak mau dengar.
Sombong sekali. Huh!”
Elang
mengacak-acak rambut Tegar. Terdengar tangisan Tegar yang menyayat membuat Elang
tak sampai hati melihatnya.
“Kamu
kan cuma pake kolor, nggak malu apa kalau mereka ngetawain.” Kata Elang mencoba
menghibur.
Tangisan
Tegar berhenti. Wajah menengadah itu memandang Elang, tersenyum.
“Hahaha…
iya aku lupa.. Besok-besok aku mau pake kemeja aja. Kamu juga ikut ya, Lang.
Kita naik burung besi.” Wajah Tegar kembali ceria.
“Elang…
Tegar… Ayo sini! Ikannya udah matang.” Teriak Bundanya Elang.
“Tuh
Bunda udah manggil, kesana yuk? Kamu laper kan?” Elang menggandeng tangan Tegar
menuju rumahnya yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.
Itu
rumah yang indah, seperti vila. Ada banyak pot kembang dihalaman, juga taman
buatan yang indah. Dihalaman, dipasir pantai, terdapat kanopi lebar dengan
beberapa bangku rotan, orangtua Elang dan Tegar terlihat sibuk membereskan
peralatan masak.
“Iya,
aku laper banget. Pengen makan ikan buatan Bunda yang enak.” Jawab Tegar ceria.
“Aku
akan selalu jagain kamu Tegar. Aku akan selalu membuat kamu bahagia.” Kata
Elang dalam hati sambil menggandeng Tegar lebih erat lagi.
“Mereka
tampak bahagia.” Ucap Ayah Elang melihat putranya dari kejauhan.
“Rencana
kalian sudah bulat?” Tanya Papa Tegar pada orangtua Elang.
“Sudah.
Dua hari lagi.” Balas Ayah Elang terlihat sedih.
***
Elang
dan Tegar adalah sepasang sahabat. Mereka tinggal didekat pantai yang indah. Rumah
mereka bersebelahan. Kini, Elang dan Tegar sudah berumur tiga belas tahun.
Tegar
menderita down syndrome atau gangguan genetika yang menyebabkan perbedaan
kemampuan belajar dan ciri-ciri fisik tertentu. Tapi bagi Elang, Tegar adalah
sosok polos yang berhati mulia. Dan karena Elang pula Tegar mempunyai banyak
teman dengan segala kekurangannya.
Pun
bagi Tegar, Elang selalu dianggapnya lebih dari seorang sahabat. Dia selalu
memberikan apa yang Elang inginkan. Elang sudah dianggapnya sebagai saudara.
“Perkenalkan
nama saya Putri. Saya pindahan dari Jakarta.” Kata anak
perempuan itu memperkenalkan diri dihadapan anak-anak yang sedang bermain di taman bacaan.
Elang
menatap wajah cantik itu tanpa berkedip, dia dan Tegar sedang menggambar di. Sementara Tegar sibuk dengan
gambarnya. Tegar dengan serius menekuni gambar yang dibuatnya dengan sapuan
pensil
“Ada
apa? “ Tanya Tegar polos sambil memandang Elang disampingnya.
Elang
yang masih terpaku tak mendengar pertanyaan Tegar.
“Heyy….
Kok melongo? Ada apa?” Tegar menutup muka Elang dengan buku gambarnya membuat Elang
segera tersadar.
“E-ehh..
Apa ?” Elang memandang Tegar.
Tegar
memandang kearah anak perempuan itu yang berjalan kearah mereka.
“Kalian
siapa?” Tanya Putri kearah Elang dan Tegar.
Dengan
cepat Elang mengulurkan tangannya.
“Elang…”
“Aku
Tegar…” Kata Tegar pelan sambil mengulurkan tangannya juga.
“Putri…” Terdengar suara lembut anak itu.
“Putri…” Terdengar suara lembut anak itu.
Elang
masih memandang Putri. Tegar sudah sibuk kembali
dengan gambarnya.
***
“Nunggu
siapa?” Tanya Tegar dengan wajah polosnya.
“Anu..
Aku nunggu Putri. ” Jawab Elang jujur.
Wajah
Tegar berkerut memikirkan sesuatu. Tetapi kemudian wajahnya cerah kembali.
“Ooh…
Kirain siapa.” kata Tegar.
“Kalau
gitu aku nunggu kamu aja di pohon besar di persimpangan itu, sambil baca
komik..” Lanjut Tegar, menawarkan.
“Iya
deh… Tunggu aku, ya…”
“Siipp….”
Tegar mengancungkan ibu jarinya kearah Elang kemudian membalikkan tubuhnya.
“Putri…
bisa aku ngomong sama kamu?” Teriak Elang kearah Putri.
Putri
tersenyum, mengangguk. Merekapun berjalan menuju kerumah Putri.
Sementara
hari semakin sore. Tegar yang sudah selesai membaca komiknya, duduk di bawah
sebuah pohon besar sesekali melihat kearah jalanan. Diambilnya ranting kayu
kemudian diikatnya menggunakan akar pohon membentuk sebuah pesawat terbang.
“Wiuuwww……
Aku bisa terbang…..” ucapnya menirukan suara pesawat terbang. Tangannya diayunkan
keatas kepalanya.
Hari
mulai gelap. Elang yang keasyikan mengobrol dengan Putri dan orang tuanya tidak
menyadari hari semakin beranjak malam. Orangtua Putri menyukai kepolosan dan
keramahan Elang.
“Kamu
bisa kesini lagi, nak Elang. Belajar bersama Putri.”
Terlihat
kecerahan diwajah Elang.
“Iya…
Terimakasih… Saya permisi…”
“Eh…
udah malam… nanti saya antar pake motor aja..” Kata Papa Putri menawarkan.
Elang
diantar papa Putri dengan motornya. Sebenarnya mereka punya mobil, tapi kondisi
daerah ini tidak memungkinkan mereka untuk membawa mobil kesini.
“Sampai
disini aja, pak… Tuh rumahnya….” Kata Elang sambil menunjuk kearah rumahnya.
Rumah
kelihatan sepi. Orangtua mereka belum kelihatan. Tadi Bundanya mengabari kalau
hari ini mereka dan orangtua Tegar akan menghadiri acara saudara mereka yang di
kampung sebelah. Biasanya tengah malam baru mereka pulang. Dan Tegar dititipkan
pada Elang.
“Gar…
Tegar….” Teriak Elang.
“Kemana
dia, ya? Udah malam keluyuran… Pinjam komik kali ke rumah Budi..” Batin Elang.
Duar!!!
Terdengar
suara petir diiringi hujan deras. Elang merapatkan tubuhnya untuk menghindari
rasa dingin yang mulai menusuk. Pikirannya kemudian menuju ke Tegar.
“Kenapa
dia belum pulang? Udah jam segini…. Biasanya dia udah mulai belajar.. Kenapa?”
Tiba-tiba
Elang terlonjak dari tempat tidurnya. Dengan cepat Elang menerobos gelapnya
malam yang kini bertambah gelap dengan guyuran air hujan. Tanpa alas kaki dia
berlarian. Akhirnya dengan terengah-engah Elang menatap sesosok tubuh yang
meringkuk di bawah sebuah pohon besar. Tegar memandangnya dengan polos.
“Elang…
Itu kamu ya? Udah selesai ngomongnya ama Putri?” Katanya bergetar karena
kedinginan.
Bibirnya terlihat membiru ketika cahaya
petir menerangi mereka. Elang menggigit bibirnya. Lidahnya tidak bisa
mengeluarkan suara. Dadanya bergemuruh menahan segala rasa.
Elang
merengkuh sahabatnya ke pelukannya. Tegar yang kedinginan merasa hangat dengan
pelukan Elang.
“Kita
pulang.”Akhirnya keluar juga suara Elang. “Sini kugendong…”
Elang
membungkukkan badannya. Tegar yang heran dengan kelakuan Elang akhirnya mau
juga digendong Elang.
“Asyikkk…
Udah lama gak digendong Elang….” Teriak Tegar ditengah guyuran air hujan.
Elang
masih terdiam.
“Aku
mau gendong kamu sampai kapanpun kalau kamu mau, kemana aja” Batin Elang.
Suara
hujan malam itu bagaikan suara merdu ditelinga Tegar. Sementara ada air hangat
yang merembes dari mata Elang membaur dengan air hujan malam itu. Kegelapan
malam akhirnya mengukir lagi sebuah kenangan bagi mereka berdua. Elang dan Tegar.
***
“Elang
udah nggak mau lagi sama Tegar ya?” Ucap Tegar dengan mata berkaca-kaca setelah
mendengar kalau sahabatnya itu akan pindah rumah.
“Bukan
begitu Tegar…”
Elang
tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia dan keluarganya akan pindah rumah
dalam beberapa jam lagi. Saat ini dirinya dan Tegar sedang berada di pantai.
“Tegar
janji akan jadi anak baik. Tapi, Elang harus disini, temenin Tegar.”
“Aku
tidak bisa…”
“Kenapa?” Ucap Tegar.
“Elang
janji kok nanti sebulan sekali Elang akan datang kesini lagi. Kita juga kan
masih bisa telponan.” Elang memegang kedua bahu Tegar.
Tegar
tidak membalas perkataan Elang, dia berlari meninggalkan Elang seorang diri.
Sungguh!
Elang pun tidak ingin pergi meninggalkan Tegar. Dia sudah melewati hari-hari
manis dan pahit bersama Tegar.
Mobil
yang ditumpangi keluarga Elang sudah
keluar gang dan kini kami melewati jalan utama. Namun baru saja keluar gang,
ada yangg memanggil-manggil nama Elang.
Itu
Tegar. Dia berlari cepat sekali mengejar mobil yang di tumpangi Elang.
"Berhenti,
Yah" Perintah Elang pada Ayahnya yang mengendarai mobil.
Tegar
sampai didepan jendela terengah-engah. Elang
membuka pintu dengan tergesa.
"Ini
buat kenang-kenangan. Hehe…" ucap Tegar, dia menyerahkan beyblade dan
mobil Tamiya. Tapi, itu Tamiya kesukaannya.
Elang
benar-benar lemas. Dipandangi wajah Tegar. Dia tersenyum lebar sekali, sembari
sesekali menarik nafas karena tadi habis berlari.
"Jangan
lupain aku ya Elang.” Ucap Tegar. Dia mengatakan itu dengan mata penuh air,
namun tetap dipaksakan dengan sedikit tawa.
“Sana..
Tegar mengerti kok… Nanti kamu kesini
lagi… Pake burung besi…. Weeeeuuuwwww!! Asyik… Jemput Tegar disini. Ok??”
Elang
menelan ludah. Tegar terlihat ceria sekali.
“Iya…
Aku akan kembali dengan burung besi… Tunggu
aku ya..” kata Elang. Tegar memeluk sahabatnya itu erat sekali. Elang mencium
pelipisnya sesaat setelah itu dia melepaskan pelukannya.
Tegar
kemudian terlihat membalikkan badannya dan pergi menjauh. Tangan Tegar
sekali-kali mengusap airmatanya yang tak berhenti turun. Elang memandang
sahabatnya yang telah hidup bersamanya selama bertahun-tahun. Keceriaan dan
kesedihan mereka lalui bersama. Kini dia harus meninggalkan sahabatnya itu. Tanpa
disadari Elang, matanya berair. Mata yang selama ini tidak pernah menangis itu
kini beair.
Tegar
menatap mobil yang ditumpangi Elang perlahan menjauh. Matanya masih basah. Dia
melambai-lambaikan tangan kearah mobil itu.
“Selamat
jalan, Elang. Jangan lupa balik lagi jemput Tegar pake burung besi…”
Dia
melambai-lambaikan tangannya. Sesekali mengusapkan kedua tangannya pada kedua
matanya.
“Tegar
janji gak akan pake kolor lagi. Tegar akan pake kemeja buat nunggu kamu….. Aaahhhhh….
Kamu dengaaaarrr??” Teriaknya.
Tegar
terduduk di pantai yang sepi itu. Hanya terdengar deburan ombak yang memecah di
batu karang. Batu karang yang biasanya tempat mereka duduk berdua.
Terdengar
suara angin berbisik. Yang menentramkan hatinya merelakan kepergian.
“Aku
nggak akan meninggalkan kamu.” Terdengar suara angin berbisik.
“Tapi
kamu udah meninggalkan aku.” Bisik Tegar.
“Nggak
kok…. Aku disini….” Elang berbisik di telinganya.
Terasa
tangan hangat itu memeluk Tegar. Tegar berbalik kearah Elang. Tak percaya apa
yang dia lihat.
“Elang.”
Tegar memeluknya erat . Sampai mereka berdua berguling di indahnya pasir pantai
itu. Terdengar kembali keceriaan diantara mereka. Elang dan Tegar.
12
tahun kemudian….
Sebuah
pesawat kecil terlihat melintas dekat sekali dengan pantai itu. Beberapa kali pesawat
itu berputar mengelilingi pulau itu seolah berharap seseorang melihatnya. Tapi
pantai itu tetap sunyi. Pesawat itu akhirnya mendarat di tepi pantai itu.
Seorang
pemuda gagah turun dengan seragam pilotnya. Wajahnya yang tampan dan tubuh
tegapnya menelusuri pantai sunyi itu. Didekatinya batu karang yang terlihat
tegar menjorok kearah pantai.
“Aku
kembali. Bawa burung besi untuk kamu, Tegar.” Bisiknya kearah deburan ombak yang
kini terdiam.
“Kenapa
kamu gak nunggu aku?” Mata pria itu berkaca-kaca.
Elang
kembali ke pesawat.
Pesawat
itu kembali mengitari pulau itu untuk terakhir kalinya.
Di
tepi pantai itu terlihat seseorang yang berlarian.
“Makasih,
Elang. Makasih atas burung besinya.” Teriaknya seiring dengan menghilangnya
pesawat Elang.
TAMAT
Note
Ini
bukan sepenuhnya karya asliku, dulu (lupa waktu kapan) pernah baca cerita ini
diblog lain, aku tulis lagi beberapa adegan yang ‘wah’. Daripada dianggurin
difolder jadi aku post disini, beberapa
yang aku ganti dan ditambahin, nama tokohnyanya juga aku ganti. Buat penulis
cerita atau pemilik blog, mohon maaf udah lancang post tanpa izin dulu, aku
juga lupa nama blognya apa.

Komentar
Posting Komentar