Dalam Bayangmu - Chapter Final
~~~
Ketika tidak ada lagi
yang kau hebatkan dari diriku. Ingatlah! Aku yang mampu bertahan saat kau
sakiti, anggaplah itu sebuah kehebatan.
***
"Mas.. Mas, bangun, mas! "
Adrian
terbangun dari tidurnya, ia merasakan bahunya diguncang oleh seseorang. Matanya
mengerjap.
"Udah sampai Bogor ini, mas."
ucap pemuda yang tadi membangunkan Adrian.
"Makasih, mas." ucap Adrian
sambil tersenyum ke arah pemuda--yang mungkin seumuran dengannya itu.
"Sama-sama, mas. Mari saya turun
duluan." pemuda itu mengangguk sambil tersenyu ramah, lalu pergi melangkah
keluar sambil menggendong tas ranselnya.
Adrian mengucek matanya, diregangkan
tubuhnya yang serasa kaku. Ia melirik jam dipergelangan tangan kirinya.
"Jam 11 malam." Ucapnya pelan.
Setelah memastikan tak ada barang yang
tertinggal, Adrian melangkahkan kakinya keluar gerbong kereta. Dinginnya udara
malam membuatnya merapatkan jaket yang dikenakannya.
Adrian
merogoh handphone yang disimpan disaku celana. Sudah beberapa jam terakhir ini
dia tidak mengecek notifikasi dihandphonenya setelag ia memergoki Astra dan
Putra.
Ada 35 pesan dari 3 chat yang masuk ke
handphonenya. 20 pesan dri grup teman kantornya, 14 dari Astra, dan 1 dari
Arnesh. Adrian mengecek pesan dari grup kantornya, isinya hanya membahas
tentang rencana liburan bersama. Pesan dari Astra ia abaikan, karena baginya
dia dan Astra sudah tidak ada hubungan apapun lagi, jadi untuk apa dia
membalasnya?
"Bang
Ian, ada dimana?" bunyi pesan dari Arnesh, sekitar
30 menit yang lalu.
"St.
Bogor."
Tak lama ada notifikasi balasan dari
Arnesh. Adrian tidak segera membalasnya, ia melangkahkan kakinya menuju toilet
stasiun untuk mencuci wajahnya agar kembali segar. Setelah mencuci wajahnya ia
kembali melihat handphonenya.
2 pesan dari Arnesh.
"Di
rumah ada mba Astra, udh 2 jam nunggu abang"
"Ade
males ngomong sm dia, tdi ade panggil bang riz buat nemenin dia."
Adrian hanya menghela napas berat.
***
Astra memilih untuk menunggu Adrian di rumahnya—atau lebih
tepatnya kontrakan Adrian dan Arnesh. Tapi apa Adrian akan pulang setelah ini?
Entahlah, dia pun tidak tahu. Dia hanya bisa berdoa agar Adrian pulang dan dia
bisa bicara padanya.
Mungkin dulu ia sempat berpikir tak
peduli jika sampai perselingkuhannya terbongkar, tapi nyatanya tak semudah itu.
Terlebih jika Adrian sendiri yang
memergokinya secara langsung.
Krek!
Adrian melangkah pelan melewati
ruang tamu, tersenyum sekilas pada Rizki dan melewati begitu saja Astra yang
sedang menunggunya. Entah karena tidak melihat atau pura-pura tidak melihat.
Dengan sedikit keraguan Astra
mengikuti langkah Adrian menuju ruang makan. Disana ada Arnesh.
“Udah makan belum de?” Tanya Adrian.
“Belum, nunggu abang. Karena abang
udah pulang, ade mau beli nasi goreng dulu didepan sama Bang Rizki.” Arnesh
berjalan melewati Astra yang berdiri dibelakang Adrian. Tatapannya menyiratkan
ketidaksukaan atas kehadiran Astra di rumahnya.
Senyap.
Begitu
suasana setelah Arnesh pergi. Astra masih diposisinya, berdiri memperhatikan
Adrian yang sedang membuka kulkas. Waktu berjalan begitu lambat dari biasanya.
Mereka berdua masih pada posisi yang sama.
Adrian
membalikan badannya, dia melihat sekilas pada Astra yang berdiri begitu gugup.
Tanpa memperdulikannya Adrian berjalan begitu saja melewati Astra.
Astra
refleks memegang lengan Adrian, menahan kepergiannya. Tapi Adrian mengibaskan
tangannya dengan keras.
“I…
Ian, aku…” Ucap Astra terbata-bata. Astra tidak tahu harus berbicara apa.
Meminta maaf atau menjelaskan perkaranya. Tapi rangkaian kalimat yang ada dalam
otaknya hilang begitu saja.
Hening
beberapa saat.
“Aku
ingin meminta penjelasan tapi lidahku kelu. Aku bertanya-tanya sendiri, apa
kesalahan yang telah aku lakukan sampai membuatmu berpaling?”
Asta
membisu. Susah payah ia mencerna kalimat Adrian barusan. Sesuatu menghantam
dadanya sangat kuat.
“Kamu
mencintainya?”
Asta
mendongah terkejut mendengar pertanyaan Adrian barusan.
“Kenapa
tidak dijawab?” Adrian menatap lekat.
Astra
tetap tidak bereaksi.
“Ternyata
memang iya.” Adrian terkekeh. “Baiklah aku menyerah. Harus ada yang menyerah.
Karena tidak mungkin kita menjalankan hubungan seperti ini. Aku…”
“Jangan
lakukan itu.” Astra memotong kalimat Adrian, tangannya mencoba meraih Adrian.
Tapi lagi-lagi dihindarinya.
“Aku
minta maaf!” Astra tertunduk dan terisak
hebat.
“Tidak,
aku yang tidak becus menjaga hubungan ini, yang malah membuat kekasihku
berpaling. Aku yang harus meminta maaf.”
“Tapi…
Tapi… bukankah kamu bilang akan selalu pertahankan aku, Ian? Dulu kamu bilang
begitu.”
Adrian
terkekeh. “Kamu tahu Astra? Selama ini kamu yang selalu jadi prioritasku. Apa
kamu sudah lupa?”
Astra
terdiam.
Sekelabat
bayangan muncul seperti vidio yang diputar ulang dalam memorinya. Betapa
hangatnya Adrian dan perlakuan manisnya. Tidak peduli jika ia tidak memberi
kabar, Adrian selalu memberi perhatian. Semuanya diulang terus menerus.
Apa
Astra baru menyadirinya sekarang? Sakit itu semakin meyesakan.
“I-i-i…
Ian… a-aku…” Astra ingin berbicara, tapi lidahnya kelu.
“Aku
pergi.” Adrian tersenyum, tulus. “Kita usai disini saja.”
Aadrian
berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Astra seorang diri. Kakinya melangkah
menuju kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Sungguh hatinya memang sakit
menerima kenyataan ini, tapi inilah yang harus ia hadapi.
Tangis pun pecah, baik Adrian maupun Astra. Mereka menangis
ditempatnya masing-masing. Kini mereka adalah orang yang hatinya sudah tidak
memiliki lagi. Satu karena telah ada yang menggantinya dan yang lainnya
tersakiti oleh hal tersebut.
***
The End
~~~
Hoy hoy!!!
Akhinya cerbung ini selesai juga. Fiuh~ setelah sekian lama,
hehe.
Aku ucapkan terimakasih bagi kalian-kalian yang sudah
menyempatkan waktunya untuk membaca cerita ini dan mohon maaf jika endingnya
tidak sesuai harapan kalian.
See
yaa

Komentar
Posting Komentar