Just One Day
“Ini sudah waktunya kamu pergi.” Panggil seseorang
berbaju putih kepada seorang pemuda yang sedari tadi memandang ke arah ranjang
dengan tatapan kosong. Di ranjang itu terbaring seorang pemuda dengan alat-alat
rumah sakit yang menempel ditubuhnya.
Entah apa yang
dipikirannya, matanya agak sayu, dia memandang sosok yang tadi memanggilnya,
kemudian tersenyum lemah.
“Maukah kamu
mendengarkan permintaanku?”
“Hmmm… Baiklah.”
***
Keesokan harinya.
Jam 07.05 WIB
“Ahhh… Akhirnya sampai
juga.” Ucap seorang pemuda sambil membanting tubuhnya ke kasur yang empuk.
Liburan selama dua
minggu benar-benar menguras tenaganya. Bagaimana tidak, selama dua minggu
liburannya dihabiskan dengan mendaki Gunung Rinjani.
Selain pikiran dan
tubuhnya yang lelah, hatinya juga merasa lelah. Jujur saja dia kecewa dan
marah. Bang Rizki – kakaknya, yang berjanji akan ikut mendaki bersama
membatalkan rencananya, karena tiba-tiba dia mendapat tugas dari kantor untuk
pergi ke Singapura.
“Maaf banget ya, dek.
Abang nggak bisa.” Ucap Bang Rizki lewat telepon, sehari sebelum dia berangkat
ke Singapura. Dia menelepon dari kantornya.
“Tapi kan abang udah
janji.” Jawab Fahmi yang kini tengah berada di mobil bersama kedua sahabatnya,
menuju bandara.
“Iya. Tapi abang nggak
mungkin nolak amanah dari kantor.”
“Ade kecewa sama abang.
Ade BENCI BANG RIZKI!.”
Klik! Fahmi langsung
mengakhiri pembicaraan ditelepon.
Fahmi dan Rizki adalah
dua kakak beradik. Fahmi merupakan mahasiswa semester dua disalah satu PTN
terbaik di kotanya. Sementara Rizki bekerja disalah satu perusahaan kontraktor.
Mereka berdua yatim-piatu, ayah mereka meninggal lima tahun yang lalu dan
ibunya menyusul dua tahum setelah sang ayah pergi.
“Ck, daripada mikirin
itu lebih baik aku tidur.” Ucap Fahmi pelan, dia tidak mau memikirkan yang
rumit-rumit, seluruh tubuhnya sangat lelah, dia ingin tidur.
Namun, tak lama dia
memejamkan matanya tiba-tiba tubuhnya merasa berat dan sulit dibangunkan.
Seseorang tengah mendudukinya dan dia tau siapa itu.
“Bang Rizki.”
“Masih marah ya sama
abang?”
“Tau ah…” Fahmi
menjawab ketus.
“Gini deh, sebagai
permintaan maaf, abang ajak ade jalan-jalan hari ini.”
“Jalan?! Males. Cape.”
“Iya deh, sekalian
abang traktir makan juga.”
Mendengar kata
traktiran wajah Fahmi berubah cerah seketika.
“Iya-iya, ade terima
permintaan maafnya. Ade juga minta maaf nggak ngerti sama kondisi kantor
abang.” Jawab Fahmi. ”Awas, abang minggir dulu, jangan duduk diperut ade.
Sekalian abang mandi dulu sana. Bau asem juga. Hoek.” Ledek Fahmi sambil menutup
hidungnya.
“Hehehe… Oke! Abang
mandi dulu ade manis.” Jawab Rizki berlalu keluar dari kamar adiknya.
***
Dengan
t-shirt hitam, jaket dan celana jeans yang dikenakan, Fahmi segera keluar dari
kamarnya menemui bang Rizki yang menunggu di ruang tengah.
“Lama
amat dandannya, kaya putri solo.” Sewot Rizki padanya. Fahmi hanya bisa manyun.
“Oiya
bang, sampe rumah jam berapa semalam?”
“Sekitar
jam 11.”
Mereka
segera menuju mobil yang terparkir didepan rumah. Rumah yang kini mereka
tempati adalah peninggalan dari orangtua mereka. Selama perjalanan Fahmi lebih
banyak diam, keadaan ini agak kurang biasa karena biasanya Fahmi banyak bicara.
Matanya sudah tidak bisa lagi menahan kantuk, hingga akhirnya dia tertidur. Rizki
tersenyum malihat adiknya yang tidur terlelap.
“I
know you are tired, but just for this day. Just one day.” Ucap Rizki pelan
***
Fahmi
terbangun dari tidurnya, entah sudah berapa lama dia tidur. Matanya kini
membelak. Yang ada dihadapannya bukanlah ilusi semata. Sungguh dia tidak
menyangka, abangnya akan membawanya ke tempat ini.
“Bang,
otaknya lagi nggak error kan?”
“Emang
kenapa? Speechless banget. Ah… Atau jangan-jangan terharu ya abang bawa ke
tempat ini?”
“Ngapain
sih abang ajak ade kesini?”
“Kan
udah bilang mau jalan-jalan.”
“Emang
nggak bisa ke tempat lain selain kebun binatang?”
“Ade
lupa ya? Ini kan tempat pertama kali kita jalan-jalan sekeluarga?”
Fahmi
terdiam, benar juga. Kebun binatang ini adalah tempat pertama kali mereka
sekeluarga berlibur. Saat itu usianya baru menginjak lima tahun. Fahmi
menerawang, tiba-tiba dia ingat kedua orangtuanya.
“Nah
lho malah diem. Mau masuk nggak?”
“Kamu
aneh, bang” Fahmi segera keluar dari mobil.
“Hari
ini abang ajak ade ketempat-tempat dulu kita pernah kunjungi bersama. Pokoknya
ini harus jadi kenangan yang nggak terlupakan buat abang dan ade.” Rizki
tersenyum, lalu menggandeng bahu Fahmi, masuk ke dalam kebun binatang.
Setelah
puas melihat-lihat semua binatang, mereka kemudian pergi lagi.
Mereka
pergi nonton, main di game center, sampai keliling kota. Tertawa, tersenyum,
dan menghabiskan waktu bersama. Sungguh hari yang menyenangkan. Mereka bermain
sampai kelelahan hingga akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.
“De,
kamu tau hari ini adalah hari yang bahagia buat abang.” Kata Rizki, saat ini
mereka sedang tiduran di kamar Fahmi. Melepas lelah. Fahmi menaruh kepalanya
diperut abangnya. Sementara Rizki mengelus-elus rambut Fahmi.
“Makasih
ya de. Abang tau kamu cape habis pulang dari Gunung Rinjani, tapi kamu tetep
mau nemenin dan ngikutin kamauan abang.”
“Iya
sama-sama bang. Kapan ya terakhir kali kita jalan-jalan berdua gini?”
“De,
abang nggak mau kalau misalkan abang nggak ada, ade jangan nagis ya, kamu boleh
nangis tapi jangan terus-terusan, nanti abang juga ikut sedih.”
“Abang
ngomong apaan sih, aku sedih lah kalau abang nggak ada.” Fahmi bangkit dari
posisi tidurnya, duduk memeperhatikan Bang Rizki.
“Ade
tau abang tuh saaayaang banget sama ade. Abang ingin ade hidup bahagia, abang ingin
ade terus maju kedepan apapun yang terjadi, abang akan selalu jagain ade. Ade
nggak usah takut sendirian.” Rizki kini duduk berhadapan dengan Fahmi, dia
memegang kedua tangannya.
“Kenapa
abang ngomong seolah-olah abang mau ninggalin ade.”
Fahmi
menatap bingung. Sejak tadi perkataan abangnya terlalu memutar-mutar. Kata-kata
abangnya seolah-olah dia akan pergi dari sisinya. Fahmi nggak mau itu terjadi.
Rizki
tersenyum mendengar pernyataan adinya itu. Dia mengambil sesuatu dari saku
celanaya, sebuah kalung. Itu adalah kalung milik almarhum ayahnya yang
diberikan ibunya kepada Rizki. Lalu dia memasangkan kalung dengan sepasang
cincin sebagai liontinnya dileher Fahmi.
“Kata
ibu dulu, cincin ini akan melindungi orang yang memakainya. Dan abang selalu jagain
ade. Simpan baik-baik ya.” Rizki menatap adiknya yang masih bingung.
“Inget
ya, ade harus janji sama abang. Ade harus jadi orang yang bahagia. Abang akan
selalu jagain ade.”
“Abang
mau pergi ninggalin ade? Jangan ngomong kaya gitu.”
Rizki
tersenyum dan memberikan kelingkingnya. “Janji ade harus bahagia tanpa abang
disisi ade.”
“Kenapa?”
“Ade
harus janji dulu.”
“Iya
ade janji.” Balas Fahmi pelan lalau di menautkan kelingkingnya dikelingking
abangnya.
“You
are always be my special. Abang bahagia punya adik kaya kamu.” Ucap Rizki
sambil memeluk erat bahu Fahmi.
Selama
beberapa saat mereka saling berpelukan. Hingga akhirnya Fahmi tertidur
dipangkuan abangnya. Rizki mengusap air mata yang jatuh dipipi adiknya. Setelah
membaringkan Fahmi dan menyelimutinya dia beranjak keluar dari kamar.
***
“Sudah
puas?” Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakang Rizki, tepat setelah dia
menutup pintu kamar Fahmi.
“Iya,
thanks ya.”
“Kamu
nggak bilang padanya.”
“Nanti
dia juga bakal tau.” Rizki tersenyum, matanya kini berair.
“Kamu
bahagia.”
“Aku
sangat bahagia, sekali lagi makasih. Aku nggak nyangka ternyata dewa kematian
mau mendengarkan keegoisanku.”
“Aku
nggak mau membawamu yang penuh penyesalan. Cuma merepotkan aku nantinya.”
Kemudian
keduanya menghilang.
***
Fahmi
terganggu dari tidurnya karena bunyi bel. Dilihatnya jam di dinding. Masih
pukul 05.00 WIB. Siapa yang pagi-pagi sudah berada didepan rumahnya. Dan kenapa
Bang Rizki tidak membukakan pintu.
Fahmi
berjalan gontai kearah pintu. Saat dia membukakan pintu terlihat Bang Rehan –
teman dekat dan juga teman kantor dari Bang Rizki, wajahnya terlihat habis
menangis. Lalu dia memeluk Fahmi erat.
“Ada
apa, bang?” Tanya Fahmi bingung.
“Kamu
yang sabar ya de. Rizki… Kakakmu… Dia sudah meninggal.”
Bagai
petir di siang bolong, hati Fahmi hancur mendengarnya.
“Abang
jangan bercanda.” Fahmi melepas pelukan dari Bang Rehan. “Kemarin kita berdua
habis jalan-jalan.”
Bang
Rehan menatap wajah Fahmi denagn heran.
“Itu
nggak mungkin, de…” Sergahnya
“Kenapa
nggak mungkin.”
“Kakakmu
mengalami kecelakaan kemarin malam. Dan selama itu dia masih dirumah sakit.”
Jawab Bang Rehan. “Dan tadi malam dia menghembuskan napas terakhir. Abang nggak
bisa ngehubungin kamu, abang kira kamu belum pulang dari Gunung Rinjani.”
“Abang
jangan bohong! Semalam aku masih sama Bang Rizki.” Fahmi berseru galak. “Dia
pasti masih tidur dikamarnya.”
Fahmi
segera berlari ke kamar abangnya. Dan saat dibuka, keadaannya masih sama saat
terakhir kali Fahmi melihatnya. Bang Rehan sekarang menatap bingung Fahmi.
Mata
fahmi memanas, perlahan air matanya keluar.
‘Jadi
ini maksud perkataan Bang Rizki.’
“De.”
Bang Rehan mendekati Fahmi. Dipegangnya kedua bahunya.
“Bang,
bawa aku ke rumah sakit.”
Bang
Rehan mengangguk paham.
Pikiran
Fahmi sekarang berkecamuk. Dan tubuhnya langsung lemas ketika melihat bang
Rizki yang sudah tidak bernyawa lagi. Dia langsung menagis
sekencang-kencangnya.
***
Fahmi
masih berdiri dipusaran abangnya, dia masih ingin berada didekat kakaknya.
Entah ilusi atau bukan. Fahmi melihat Bang Rizki tersenyum padanya.
“Keep
your promise.” Bisik Rizki pelan sambil memeluk Fahmi. Kemudian bayangan itu
menghilang, Fahmi sudah tak mampu lagi membendung air matanya.
“Kamu
tau bang, satu hari bersamamu waktu itu sungguh sangat bahagia untuk ade. Kali
ini saja… Kali ini saja biarkan ade menagis dan bersedih bang. Lalu ade akan
kembali tersenyum, kembali tersenyum padamu.”
TAMAT

hahahha......mimiiii..mimiii cukup keren untuk pemula sebagai tahap pembelajaran
BalasHapusselalu di tingkatkan yahh...jgn pernah menyerah sebelum berusaha siapa tau besok jadi novelis terkenal kaya abang tere hehe :)ditunggu karya selanjutnya