Love at the First Sight (Cinta Pada Pandangan Pertama)



- Apalah arti sebuah nama? Karena cinta bisa terjadi pada pandangan yang pertama. -
~~~

Pernahkah kamu mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama?
Awalnya aku tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Bagaimana mungkin kita bisa begitu saja jatuh cinta, pada orang yang baru saja kita lihat? Bukankah tak kenal maka tak sayang? Lalu bagaimana caranya kita bisa jatuh cinta hanya dengan sekali memandang saja? Hingga kemudian, semua pertanyaan itu terjawab saat aku melihat seseorang di angkot.

***

Ahhh… Hari Senin. Hari dimana segala rutinitas dimulai, menyebalkan memang. Manusia mana yang suka saat kemarinnya mereka pergi berlibur dan bersantai lalu besoknya harus kembali melakukan rutinitas selama kurang lebih enam hari, bangun pagi buta, macet dijalan, kerjaan numpuk, pulang sore, macet lagi, sampai rumah malam. Dan juga bagi kami anak sekolah, hari senin bertambah menyebalkan karena ada upacara bendera.
Dengan segudang image buruk tentang hari senin yang aku sebutkan diatas, bukan berarti aku jadi pengikut anti-Monday ya, toh aku tetap menyukai hari senin. Kenapa? Sederhana, karena dihari senin aku bisa kembali bertemu dengan seorang perempuan. Setiap pulang sekolah aku dan dia selalu berada dalam satu angkot yang sama. Angkot disini memang selalu menunggu penumpang penuh baru bisa berangkat. Kalau dilihat dari bet sekolahnya, sepertinya dia dari SMA sebelah. Memang aku dan dia tidak saling mengenal, tapi entah kenapa saat melihatnya jantungku serasa berdegup lebih kencang, nafasku serasa lebih cepat. Haha… terlalu lebay?! Ayolah kalian juga pasti pernah merasakan hal yang sama bukan?

***

“Mohon perhatiannya! Dikarenakan hari ini ada rapat para guru, maka kegiatan belajar mengajar hanya sampai setengah hari. Untuk para siswa-siswi harap langsung pulang ke rumah dan tidak nongkrong di warung-warung. Sekian terima kasih.”
Sorakan kegembiran memenuhi setiap penjuru sekolah. Bagaimana tidak? Ini kejadian langka karena biasanya sekolah kami baru selesai KBM jam 15:30. Momen ini tidak disia-siakan, kami semua segera berkemas pulang. Dalam sekejap lapangan sekolah dipenuhi anak-anak yang baru saja keluar dari kelas.
“Mau langsung pulang, Ka?” Tanya teman sebangku ku, Kevin.
“Yoi, mau langsung balik aja.” Jawabku sambil memasukkan buku-buku kedalam tas.
“Warnet dulu gak?” Tawar Kevin.
“Hmmm… nggak deh, Vin. Aku mau langsung balik, sekalian mau nerusin cerpen yang belum rampung.” Tolakku halus.
“Ohh yaudah deh. Yuk cepet cabut.”
Seperti biasa aku selalu ikut pulang bareng Kevin naik motornya sampai terminal angkot, dari sana dilanjut naik angkot sampai ke depan kompleks perumahan. Momen seperti ini yang aku tunggu, karena aku bisa bertemu dengan perempuan itu, dan menurut perhitunganku dihari senin ini sekolah dia juga sudah pulang, jam 13:00. Bagaimana aku tahu? Ya karena ternyata perempuan itu satu sekolah dengan tetangga sebelah rumahku, Nayla. Kebetulan? Aku rasa tidak, haha. Karena momen inilah aku sengaja menolak ajakan Kevin untuk ke warnet. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat wajahnya.
Sesampainya di terminal, sepertinya angkotnya akan segera berangkat. Aku harus cepat-cepat, bisa gawat kalau ternyata dia sudah ada didalam.
Hop! Kakiku sudah berada dipintu masuk. Aku mengarahkan pandanganku ke segala penjuru, tempat duduk hampir penuh, hanya menyisakan untuk dua orang saja, kebanyakan anak-anak SMP dan ibu-ibu. Mataku terus menjelajah, mencari sosok perempuan yang telah membawa hatiku.
Alamak! Ternyata dia tidak ada di angkot ini. Aku ragu-ragu untuk duduk atau turun dan menunggu perempuan itu. ‘Tapi bagaimana kalau ternyata dia sudah pulang duluan?’
            “Ayo dek cepet duduk, kita berangkat.” Ucap si mamang angkot karena melihatku yang hanya mematung didepan pintu masuk.
Aku menghela nafas pelan, ‘sudahlah masih ada besok’, batinku menenangkan diri.
Tepat sebelum aku beranjak dari posisi berdiri didepan pintu sebuah suara lembut nan anggun terdengar dibelakangku.
“Udah penuh ya, mang?”
Aku turun dan menoleh kearah sumber suara.
Degh!
“Belum neng, masih ada dua lagi di kanan.” Jawab si mamang angkot tadi.
Lucky! Dia perempuan itu.
“Dek, kalau nggak mau naik awas, jangan berdiri didepan pintu kaya gitu. Kasih jalan buat si eneng ini.”
Aku mengiyakan perkataan si mamang ini dan mempersilahkan dia untuk masuk duluan. Sekilas aku melihat dia tersenyum padaku. Sangat manis dan indah.
“Dek, malah bengong. Ayo cepet masuk.” Si mamang angkot menepuk punggungku.
Aku segera masuk dan duduk disamping dia. My god! Jantungku kembali berdegup lebih kencang, nafasku serasa lebih cepat. Aku segera merogoh handphone di saku jas almamater, mengambil earphone dan mulai mendengarkan lagu. Mencoba menenangkan hatiku yang setiap saat selalu gelisah jika seangkot dengan perempuan itu.

***

Malam harinya.
Aku masih tidak mengerti mengapa aku bisa tertarik pada perempuan itu. Ia tidak istimewa, ia tidak memiliki wajah seperti malaikat, ia tidak berpakaian trendi. Namun ia memiliki daya tarik tersendiri di mataku. Wajahnya begitu teduh dan menyenangkan. Ia tidak seperti kebanyakan perempuan yang aku kenal dengan berlomba-lomba menggunakan bedak dan make-up hingga terlihat mengerikan di mataku.
            Aku memandangi langit kamar sambil berangan-angan.
Tuhan, inikah rasanya cinta pada pandangan pertama?’ Aku bertanya dalam hati. ‘Kenapa aku tidak bisa melupakan senyumannya? Senyum itu tertancap begitu dalam di ingatanku.’
            Aku mengambil bantal dan menutupi mukaku dengannya. Bayangan wajahnya bermunculan dalam pikiranku. Beberapa saat kemudian, aku bangkit dan tersenyum.
‘Tuhan, baiklah aku akui, aku jatuh cinta padanya. Pada pandangan pertama. Aku kini percaya, cinta semacam itu ada.’ Aku melakukan pengakuan dan berharap hatiku bisa merasa lega setelah itu.
Tapi aku tidak merasakan adanya perbedaan tentang apa yang aku rasakan. Aku merasa tetap saja hatiku gundah memikirkannya. Dan semalaman itu aku terus gelisah memikirkan pemiliki wajah yang tampak selalu tersenyum itu. ‘Perempuan dalam angkot’ begitu aku menyebutnya, ya setidaknya sampai aku tahu namanya.

***

            “Hallo Dika! Selamat pagi!” Sapa Nayla sambil melambaikan tangan, tetangga sebelah rumahku itu.
“Eh, Nay. Pagi juga.” Jawabku balas melambaikan tangan. Aku sedang teburu-buru.
“Udah mau berangkat? Pagi amat? Baru aja jam 6.”
“Iya nih, Nay. Maaf ya aku berangkat dulu. Udah telat nih.”
“Oke. Hati-hati dijalan ya.” Nayla melempar senyumnya padaku.
Aku membalas senyumannya dengan sedikit kaku dan segera melesat ke arah jalan raya. Jujur saja aku tidak tertarik dengan perempuan seperti Nayla, ya meskipun jika melihat dari gelagatnya sepertinya Nayla sangat terobsesi padaku. Perempuan seperti Nayla selalu aku bisa temukan dimana saja, mereka umumnya hanya mencari perhatian saja, tapi berbeda dengan dengan ‘Perempuan dalam angkot’ itu.
Ahh… Lagi-lagi aku memikirkan dia. Sudahlah, hari ini aku ada proyek sains di sekolah, dan sepertinya aku akan pulang sore. ‘Haa… tidak akan bertemu dengannya di angkot.’

***

Jam 17:30
            Aku berjalan gontai masuk ke kompleks perumahan. Cape banget hari ini, salah aku sendiri sih tadi mampir dulu ke warnet sehabis ngerjain proyek sains di sekolah.
            “Dika!”
            Aku menoleh ke arah sumber suara yang memanggilku, dia Nayla. Dia sedang duduk diayunan bersama seseorang, mungkin temannya. Tunggu! Wajah itu tidak asing bagiku.
            “Sore Nay.” Aku balas menyapa Nayla dan berjalan menghampirinya. Mencoba memastikan sesuatu.
            Degh! Dugaanku benar dia ‘perempuan dalam angkot’ itu. Aku menatap wajanya, sepertinya dia juga terkejut melihatku.
            “Sore juga Dik. Baru pulang?”
“Iya nih Nay. Tadi di sekolah ada proyek Sains yang belum selesai. Terus sekalian tadi nyari inspirasi dulu sambil searching ke warnet hehe…”
Aku mencuri pandang pada perempuan itu.
“Loh ngapain repot-repot ke warnet? Mending ke rumah aku aja. Wifi gratis kok buat Dika.”
Please, Nay! Jangan basa-basi, kenalin aku padanya.
“Eh iya Dika ini temen aku namanya Risma.”
Thanks, God. Risma… Risma. Aku terus merapalkan namnya dalam hati.
“Hai nama saya Dika, salam kenal.” Aku mengulurkan tangan, berkenalan.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Empat detik
Lima detik
“Eh iya. Aku Risma temennya Nayla dari komplek sebelah. Salam kenal.” Risma akhirnya membuka suara setelah disiku oleh Nayla.
Aku bisa melihat rona wajahnya yang terlihat menggemaskan dan kegugupan yang terpancar jelas di matanya.
‘Ahh… dia semakin menarik saja.’
 “Maaf ya Dik, temen aku ini emang rada telmi, telat mikir hehe…”
Aku tertawa mendengar guyonan Nayla. ‘Ku harap dia tidak tersinggung.’
“Kok tumben ngajakin temen ke rumah? Orangtua kamu kemana Nay?”
“Ayah sama Ibu aku lagi ke luar kota. Makanya aku ngajakin Risma nginep di rumah. Dika mau ikut?”
“Ikut apa? Nginep? Nggak boleh lah Nay. Nanti abis magrib aja deh Dika mampir mau numpang Wifi boleh kan?”
“Boleh kok boleh hihihi…” Jawab Nayla terdengar senang.
Mungkin ia berpikir bahwa aku tertarik pada dirinya. Padahal aku hanya tertarik pada sahabatnya saja.

***

Malam itu, selepas pulang dari rumah Nayla aku menuliskan nama Risma dalam buku impianku. Aku mulai menuliskan beberapa hal tentangnya, dan beberapa kisah yang terlintas di kepalaku begitu saja. Kubaca berulang kali, kupastikan hanya hal-hal yang membuatku tersenyum bahagia yang kutulis di sana.
Aku tidak menyangka, bahwa hari-hariku akan diisi dengan perasaan cinta yang tidak bisa kuungkapkan. Bagaimana tidak? Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Entahlah. Akupun tidak bisa menjelaskannya. Ini terjadi begitu saja. ‘Aku harus bagaimana?’ Aku berbisik lirih dalam doaku sebelum tidur. ‘Aku tahu ini tidak seharusnya terjadi. Tapi nyatanya ini terjadi. Dan apa yang bisa kulakukan? Selain memendam semua perasaan ini? Apa lagi?’  Dan saat perasaan itu semakin berkecamuk.

***

Hari-hari selanjutnya berlalu begitu saja. Harapan itu kembali pudar seiring waktu. Tidak ada apapun yang terjadi. Tidak ada pertemuan diangkot. Tidak ada keajaiban.
Sudah seminggu aku tidak bertemu lagi dengan Risma, terakhir aku melihatnya saat bertamu ke rumah Nayla.
‘Apa dia sedang sakit?’ Batinku.
‘Ahh… entahlah.’
Rasa rindu semakin hari semakin nyata menjeratku.
Kebahagiaan dan kesedihan bercampur menjadi satu, setiap kali membaca tulisanku di buku impian. Dan saat kesedihan dan rindu memuncak, aku tahu hanya kepasrahanlah yang bisa menjadi satu-satunya jalan.

***
~~~
Denganmu senang hati terasa
Bangun dari mimpiku tahu aku tak sendiri
Matahari pun serasa lebih cerah
Dengan kecup manismu ku mulai melangkah

Ku nikmati tiap detikku dengan namamu di hatiku
Ku rasa bahagia dan hati berbunga-bunga
Kau buatku tergila-gila, tunduk hati aku setia
Selayaknya sihir kau buatku terjatuh

Tapi tak berlangsung lama
Kau tinggalkan aku
Kau pergi berjejak Tanya
~~~

            “Kenapa, de? Kok wajahnya ditekuk gitu?” Bang Diki menegurku yang sedang memainkan gitar di teras rumah.
            “Nggak ada apa-apa kok, bang.”
            “Emm… Bohong! Kamu pasti lagi patah hati ya? Hayo ngaku?” Bang Diki menggoda.
            Aku tidak membalas godaan Bang Diki. Memetik sembarang senar gitar.
‘Mungkin dia memang sengaja menghidar bertemu denganku?’ Aku bersasumsi dengan perasaan.
“Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam ditengah lapangan putih yang luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat, hebat sekali benda bernama ‘perasaan’ itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan dikejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang.”
Aku menoleh ke arah Bang Diki, dia tersenyum menatapku. Sepertinya dia tahu apa yang membuat aku galau begini.
“Aku nggak tahu harus gimana bang.” Aku tertunduk lesu.
“Kamu sudah SMA. Jika kamu menyukai seseorang dan merasa ia tepat untukmu. Berjuanglah sekeras mungkin sebagai lelaki.” Bang Diki mengacak-acak rambutku. “Lakukan apa yang menurutmu baik, perjuangkan dia, dan pertahankan dia sampai akhir.”
Setelah mendengar nasihat Bang Diki barusan aku sedikit mendapat pencerahan. Aku tidak akan berasumsi dengan perasaan. Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Aku harus menemui Nayla.
“Nay! Nayla!” Aku memanggil Nayla dari depan rumahnya.
Tak lama kemudian dia muncul dari balik pintu.
“Eh, Dika. Ada apa? Sini-sini masuk.” Nayla membuka pintu gerbangnya dan mempersilahkan aku duduk dikursi yang berada diteras rumahnya.
“Bentar ya aku ambilin minum dulu.” Nayla hendak berdiri dari temapt duduknya.
“Eh nggak usah, Nay. Aku cuma mau ngomong sama kamu?”
 “Mau curhat apa? Emm… pasti tentang Risma ya?” tebak Nayla, tertawa.
“Eh, kok tau?”
“Haha… Iyalah aku tahu, dari kamu melihat Risma aku udah bisa nebak.”
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, ‘Apa memang sejelas itu?’
“Risma kayanya naksir juga tuh sama kamu, dia sering curhat perihal cowok yang selalu seangkot sama dia, ternyata cowo itu adalah kamu. Dan Risma itu temen sebangku lalu kamu tetanggaku. Kebetulan? Haha…”
“Tapi kenapa seminggu ini dia nggak keliatan seangkot sama aku lagi, kamu tahu kenapa Nay?”
“Hmm… aku kurang tahu, Dik. Udah seminggu ini sih kalau udah bel pulang dia nggak langsung pergi, biasanya diam dulu disekolah.”
“Apa mungkin dia ngehindar dariku, Nay?”
“Wah kalau gitu aku nggak tahu tuh. Kamu juga naksir ya sama Risma?” cengir Nayla.
Aku hanya bisa tertunduk malu dan mengangguk.
“Ya kalau udah saling suka, kamu tinggal tembak aja dia. Dor! Haha…”
“Beneran? Kamu nggak marah, Nay?” tanyaku menyelidik.
“Ya engga lah, ngapain juga aku jadi penghalang buat kebahagiaan temanku. Cinta tidak bisa dipaksakan, bukan? Meski dulu aku terobsesi sama kamu, tapi mungkin itu hanya sebatas kagum aja, kebetulan aku suka sama cerpen dan puisi yang ada di blog kamu itu. Cinta tak bisa dipaksakan, hehe.”
“Tapi aku bingung nentuin waktu yang pas ini.”
“Gini aja, kamu tungguin dia sampai sore. Tunggu dia di terminal sampai dia naik angkot. Udah itu terserah kamu deh.”
Aku berpikir sejenak. “Hmm… Boleh juga tuh. Okelah aku pake saran kamu. Makasih banyak ya, Nay.”
“Oke. Sama-sama. Semangat, Dik.” Nayla mengacungkan tinju ke udara.
Aku membalas tinjunya, tertawa.

***

“Aku akan mendapatkanmu.” ucapku dengan sepenuh hati dan penuh tekad.
Aku tidak akan pernah melepaskan perempuan itu. Perempuan yang sanggup mencuri hatiku. Seperti kata abangku, “Kamu sudah SMA. Jika kamu menyukai seseorang dan merasa ia tepat untukmu. Berjuanglah sekeras mungkin sebagai lelaki.” Itu benar! Aku bukan lelaki yang baru menjejaki bangku SMA tetapi aku lelaki yang sudah menjejaki bangku SMA. Aku pasti akan mendapatkamu, Risma Septiani.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mt.Gede 2.958 mdpl

Dalam Bayangmu - Chapter 4

Lapang Dada