The First Five Seconds
Bel pulang sekolah pun akhirnya berbunyi. Setelah sekian lama ditunggu oleh murid-murid sekolah. Terutama kelasku, XI-IPA 2 yang nggak lain dan nggak bukan sedang berlangsung pelajaran kimia. Oh God! Kill me now! Tapi guyonan itu langsung sirna begitu mendengar suara bel yang dirindukan.
Namaku
Risma. Lengkapnya Risma Septiani. Pendeknya Ris, Ma, Ima, and up to you mau panggil apa selagi aku masih nengok.
Hari
ini adalah hari favoritku. Senin. Meskipun lebih banyak orang yang mencaci maki
hari Senin. Aku heran padahal kan Senin itu…. I think you must know about Monday. Karena tiap hari Senin
sekolahku pulang jam 13.00 jadi ini kesempatanku buat pulang cepat ke rumah.
Seperti
biasa aku selalu pulang sendiri. Aku udah biasa pulang sendiri jadi ya…
menurutku itu fine-fine aja. Aku pulang
naik angkot yang bakal jalan kalau penumpangnya udah penuhin semua tempat duduk
yang ada. Jadi, aku harus sabar menunggu angkot penuh.
Ada
satu hal yang membuatku nyaman naik angkot. Aku selalu seangkot sama cowok dari
sekolah lain. Anehnya lagi, aku dan cowok itu sering banget satu angkot. Aku
nggak kenal dia, dan aku rasa dia juga nggak kenal aku. Tapi karena kita sering
satu angkot, aku jadi hafal muka dia, dan merasa aneh kalo di angkot nggak ada
dia.
***
“Ris,
main ke rumah yuk! Nyokap sama bokap gue lagi nggak ada. Gue takut sendirian di
rumah.” Nayla memaksaku untuk mampir ke rumahnya.
“Ah
males. Minta tetangga lo aja mampir ke rumah.”
“
Siapa? Dika? Mana mau dia.”
“Kan
biar seru kalo ditemenin sama Dika. Cie..”
“Ah..
masa iya gue minta Dika temenin gue. Malu kali Ris. Kalo lo ikut gue bakal ajak
Dika juga deh, gimana?”
“…”
“Ah… jawab iya dong Ris.”
“Iya
deh iya.”
Nayla
ini temen sebangku aku. Dia terobsesi banget sama tetangganya. Katanya namanya
Dika. Setiap hari dia cerita tentang si Dika. Walaupun sebenarnya aku juga
belum tau yang mana yang namanya Dika itu.
“Pokoknya
gue yakin lu juga bakalan jauh lebih terobsesi daripada gue ke si Dika. Dia itu
orangnya tinggi, tegap, ganteng, pinter, posturnya laki banget deh. Dia itu
orangnya asyik diajak ngobrol. Senyumnya semanis madu, setiap tuturan katanya
mampu bikin lo skak mat! Selain itu
dia suka bikin cerpen, nyanyi lagu romantis, ah… Dika you are my prince in my life.” Itu ocehan yang selalu dilontarkan
Nayla setiap harinya. Awas ya Nay kalo
sampai si Dika nggak seperti yang diomongin
tiap hari, aku nggak mau lagi dengerin omonganmu tentang si Dika. Batinku.
Jam
16.00 aku pamit ke Mamah mau ke rumah Nayla. Tempat tinggal Nayla nggak terlalu
jauh dari rumah. Dia tinggal di komplek sebelah. Cukup jalan kaki biar sehat.
Kalau naik angkot terlalu dekat jaraknya. Cuma 15 menit berjalan, aku sudah
sampai di depan rumah Nayla.
Aku
menekan bel rumah Nayla yang nggak lama kemudian muncul sesosok perempuan
dengan rambut panjang terurai mengenakan baju putih dari balik pintu. *Positive thingking guys, dia bukan Mbak
Kunti, dia Nayla*
“Risma…
akhirnya lo datang juga. Cepetan yuk masuk gue mau ngerjain tugas kimia nih.”
Nayla langsung saja merangkul pundakku begitu dia tau yang datang itu aku.
“Loh,
Dika mana? Katanya kamu mau ngajak si Dika ke sini.”
“Dia
belum pulang sekolah, kayaknya nangkring dulu di warnet deh.”
“Ngapain?”
Aku bertanya dengan polosnya.
“Ya
mana gue tau lah. Paling dia nge-post cerpen dia.”
“Oh
gitu…”
Kebetulan
tadi di sekolah ada tugas kimia, jadi ya sekalian saja aku dan Nayla
mengerjakan tugas tersebut. Sambil sesekali diselang dengan celotehan-celotehan
Nayla tentang Dika.
“Eh
Nay, aku heran deh. Aku selalu seangkot sama cowok yang sama. Kayaknya dia
seumuran kita. Dari SMA Negeri sebelah SMA kita. Kayaknya dia orang komplek ini
deh. Soalnya aku pernah liat dia turun di komplek ini. Kira-kira siapa ya?”
“Oh
ya? Lo naksir kali. Di komplek ini banyak kali anak SMA yang seumuran kita.
Banyaknya juga yang sekolah di SMA sebelah. Jadi susah deh kalo lo nyari tau
orangnya. Gue kan belum lama pindah kesini jadi gue nggak terlalu kenal sama
tetangga. Tapi kalo Dika sih gue kenal hehe…”
“Huuh
dasar ya. Kalau yang ganteng aja dikepoin.”
“Hehe…”
Nayla nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah
selesai mengerjakan tugas kimia, Nayla mengajakku untuk duduk-duduk santai di
ayunan depan rumahnya. Komplek perumahan Nayla cenderung sepi. Apalagi saat
sore seperti ini. Sebenarnya suasana seperti ini sangat membuat nyaman. Duduk
di ayunan taman disinari sinar matahari jingga dan hembusan angin sepoi-sepoi.
Tidak ada kendaraan lalu lalang di jalan. Sehingga rasanya oksigen disini cukup
bagus untuk dihirup dalam-dalam.
“Dika!”
Nayla tiba-tiba berteriak memanggil sesosok laki-laki mengenakan seragam SMA di
seberang jalan.
Sontak
saja aku menoleh karena akhirnya rasa penasaranku terhadap sosok Dika yang
membuat Nayla begitu terobsesi kepadanya bakal terbayar. Tepat saat aku menoleh
ke seberang jalan, mataku langsung menangkap sesosok laki-laki yang selama ini
membuatku penasaran. Ternyata Dika adalah laki-laki yang sering seangkot
denganku.
“Sore
Nay.” Dika menyapa Nayla sambil melambaikan tangan dan menghampiri kami berdua.
“Sore
juga Dik. Baru pulang?”
Pertanyaan bodoh macam
apa itu.? Sudah jelas dia baru pulang dari sekolahnya.
Batinku.
“Iya
nih Nay. Tadi di sekolah ada proyek Sains yang belum selesai. Terus sekalian
tadi nyari inspirasi dulu sambil searching ke warnet hehe…”
“Loh
ngapain repot-repot ke warnet? Mending ke rumah aku aja. Wifi gratis kok buat
Dika.”
Penjilat.
“Eh
iya Dika ini temen aku namanya Risma.”
“Hai
nama saya Dika, salam kenal.” Dika mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan
dan wajahnya dihiasi senyumannya yang manis.
Satu
detik…
Pokoknya gue yakin lu
juga bakalan jauh lebih terobsesi daripada gue ke si Dika.
Dua
detik…
Dia itu orangnya
tinggi, tegap, ganteng, pinter, posturnya laki benget deh.
Tiga
detik…
Dia itu orangnya asyik
diajak ngobrol.
Empat
detik…
Senyumnya semanis madu,
setiap tuturan katanya mampu bikin lo skak mat!
Lima
detik…
Ah… Dika you are my prince
in my life.
Tiba-tiba
saja kata-kata Nayla langsung terngiang begitu Dika menyapaku. Aku menatapnya
lekat sampai aku tidak sadar kalau Dika mengulurkan tangannya untuk bersalaman
kalau saja di detik kelima Nayla tidak menyikutku.
“Eh
iya. Aku Risma temennya Nayla dari komplek sebelah. Salam kenal.” Aku menjawab
dengan kikuk nya karena kaget setelah disikut oleh Nayla.
“Maaf
ya Dik, temen aku ini emang rada telmi, telat mikir hehe…”
Langsung
saja mataku melotot saat Nayla bicara seperti itu. Bukannya membantu rasa gugup
yang sedang aku alami, malah menambah panas suasana saja si Nayla ini. Yang
lebih menyebalkan adalah saat Nayla bicara seperti itu Dika juga ikut tertawa
mendengarnya. Jelas saja ini membuat jantungku memompa darah lebih cepat dan
membuat wajahku seperti kepiting rebus.
“Kok
tumben ngajakin temen ke rumah? Orang tua kamu kemana Nay?”
“Ayah
sama Ibu aku lagi ke luar kota. Makanya aku ngajakin Risma nginep di rumah.
Dika mau ikut?”
“Ikut
apa? Nginep? Nggak boleh lah Nay. Nanti abis magrib aja deh Dika mampir mau
numpang Wifi boleh kan?”
“Boleh
kok boleh hihihi…”
Benar-benar penjilat.
Jijik aku sama kamu Nay.
***
“Jujur
deh, lu naksir kan sama si Dika? Ayo ngaku…” Nayla selalu melontarkan
pertanyaan konyol itu kepadaku.
Sesuai
dengan apa yang dibicarakannya, akhirnya Dika datang ke rumah Nayla jam 19.00
untuk menumpang pakai Wifi nya Nayla. Sebelumnya aku sudah bilang ke Nayla
kalau Dika adalah sosok laki-laki yang sering banget seangkot denganku.
Mendengar hal itu, Nayla malah tertawa terpingkal-pingkal, apalagi saat
mengingat lima detik setelah Dika memperkenalkan dirinya.
Dika
datang mengenakan setelan kaos berwarna hitam dengan celana pendek selutut
dengan warna yang serupa dengan bajunya. Dia membawa laptop dan kotak makan.
Ibunya yang mengirimkan makanan untuk kami bertiga agar bisa makan bersama.
“Repot-repot
bawa makanan, padahal aku juga udah masak loh. Bilangin makasih ya ke Tante
Pia. Yaudah kita makan dulu yuk.” Itu kata-kata yang diucapkan Nayla setelah
menerima sekotak makanan.
Selesai
makan malam, Dika langsung saja menghidupakan laptopnya dan membuka blog
miliknya. Dia bilang dia mau memposting cerpen yang baru saja ditulisnya.
“Kamu
suka nulis cerpen ya?” Nayla membuka pembicaraan setelah sekian lama kita
bertiga hanya saling diam.
“Iya.
Nggak Cuma cerpen sih, aku juga suka bikin puisi.”
“Wah…
mau dong dibikinin puisi sama kamu.”
“Aku
bikin puisi buat orang tertentu aja, orang yang aku anggap spesial.”
Jleb.
Aku
langsung menahan tawa karena aku yakin kata-kata Dika itu sangat menusuk dan
sangat jelas mengartikan kalau Nayla bukan orang yang spesial untuk Dika. Aku
melihat raut kekecewaan Nayla karena begitu mendengar Dika bicara seperti itu
Nayla langsung cemberut sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
“Maaf
ya Nay, gimana kalau kalian berdua bikin cerpen juga? Nanti cerpen kalian bakal
aku posting di blog aku.” Mungkin Dika sadar kalau Nayla tersinggung atas
ucapan sebelumnya.
“Wah,
bener ya? Oke deh. Tunggu sebentar ya.” Nampaknya Nayla begitu senang. Tanpa
basa-basi lagi dia langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kami
berdua.
“Dia
kenapa?” Tanya Dika keheranan.
“Nggak
tau.” Jawabku dengan singkatnya.
“…”
“Nih
cerpen gue.” Sesaat kemudian Nayla datang kembali dengan membawa flashdisknya.
“Udah
jadi?” Dika tampak begitu keheranan.
“Udah
dong, aku juga kan suka iseng-iseng nulis bikin cerpen hehe…”
“Oh
ya? Bagus dong. Nanti aku liat dulu terus nanti aku posting deh sesuai janji
aku. Risma? Mau kapan kirim cerpennya?”
“Eh
anu… aku nggak bisa. Em, belum pernah bikin cerpen nih.” Aku belum pernah bikin
cerpen. Lagipun rasanya aku bingung harus cari inspirasi darimana supaya aku
bisa menulis cerpen.
“Yaudah
aku bakalan nunggu cerpen kamu kok.”
***
Aku
terbangun dari tidur dan langsung melirik jam dinding yang ada di kamar Nayla.
Jam 02.00 dini hari. Menyebalkan, meski sudah berusaha memejamkan mata aku
tidak bisa tidur lagi. Terlintas bayangan Dika tiba-tiba saja menari-nari di
pikiran. Aku mengingat kejadian tadi sore saat Dika tersenyum. “Manis sekali.”
Aku bergumam sambil senyum-senyum sendiri.
“Apanya
yang manis Ris?” Nayla tiba-tiba bertanya walau sepertinya dia setengah sadar.
Belum sepenuhnya terbangun.
“Eh,
kok bangun? Aku berisik ya Nay? Tidur lagi ya Nay.” Aku menyelimutinya sambil
berharap Nayla tidak benar-benar mendengar. Mungkin dia mengigau.
“Ah…
bilang aja lu lagi mikirin si Dika kan? Ngaku deh lo.” Nayla sepertinya memang
sedikit sadar dari tidurnya.
“Iya
deh iya aku ngaku. Dika… penuh pesona ya Nay.”
“Lu
suka kan? Yaudah kita liat aja dia suka sama siapa. Sama gue, sama lo, atau
jangan-jangan dia mungkin udah punya pacar. Tapi kayaknya belum sih, gue rasa
dia orangnya flat.”
“Jangan
dijadiin bahan taruhan dong.” Aku protes.
“Nggak
ko. Gue cuma bikin kesepakatan aja. Kalau si Dika suka sama lo yaa gue terima.
Tapi kalau si Dika sukanya sama gue gimana? Ya lu harus juga nerima.” Nayla
langsung membalikkan badan. Sepertinya dia tertarik dengan obrolan ini.
“Tapi,
Dika itu orangnya gimana sih Nay?”
“Pokoknya
lu siap-siap aja bikin cerpen. Dia bakalan nagih terus ke lo kalau sampe lu
ketemu sama dia. Udah ah, gue mau lanjut mimpiin Dika.” Nayla pun langsung saja
kembali tidur.
Nayla
membiarkanku bermain dengan pikiranku sendiri. Dengan bayangan Dika yang terus
menghampiri. Pokoknya lu siap-siap aja
bikin cerpen. Dia bakalan nagih terus ke lo kalau sampe lu ketemu sama dia. Kata-kata
Nayla yang ini malah membuatku pusing. Bagaimana tidak? Aku belum pernah bikin
cerpen. Membacanya saja tidak. Aku lebih suka menyanyi, mungkin menyanyikan lagu
untuk Dika.
***
Seminggu kemudian
Aku
pulang sekolah dengan kondisi badan benar-benar lelah. Seperti biasa aku naik
angkot. Sambil menunggu angkot penuh, aku tertidur di bangku paling ujung. Aku
sudah tidak peduli lagi dengan penumpang lain. Yang pasti hari ini aku
benar-benar lelah.
Sang
supir pun langsung menghidupkan mesin angkot. Penumpang terakhir pun naik dan
langsung duduk di hadapanku. Sontak saja aku terkejut karena ternyata yang
duduk dihadapanku adalah Dika.
“Eh
Risma. Hai.”
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Empat detik
Lima detik
“Eh,
hai” lagi-lagi aku balas menyapanya dengan kikuknya.
“Cerpen
mana?” Akhirnya pertanyaan yang membuatku selalu menghindar dari Dika terucap
juga.
Ya,
seminggu setelah kesepakatan untuk membuat cerpen, aku selalu menghindar dari
Dika. Aku selalu menemukan jalan buntu saat mau menulis. Akhirnya aku lebih
memilih untuk menghindar dulu. Aku rela pulang lebih sore supaya nggak seangkot
sama Dika. Berharap kalau Dika lupa akan kejadian waktu itu. Tapi aku rasa sekarang
aku lagi sial-sialnya.
“Em,
anu… belum beres hehe…” Aku mencoba setenang mungkin dihadapan Dika.
“Yaudah
gapapa, padahal aku udah bikin puisi buat kamu.”
Glek.
Rasanya
susah sekali buat menelan ludah. Bukannya
Dika bikin puisi buat orang yang dia anggap spesial aja ya? Emangnya aku spesial
ya di mata dia?
Mungkin
Dika menangkap ekspresi bingungku. Dia langsung saja merogoh Handphone di
sakunya. Membuka kuncinya, mencari sesuatu yang sepertinya akan dia tunjukkan.
Setelah ketemu, dia merogoh sakunya lagi, mengeluarkan headset dan meluruskan headset
yang kusut itu.
“Kamu
ngapain?” Aku yang penasaran akhirnya angkat suara.
“Dengerin
lagu. Abisnya yang diajak ngobrol malah bengong.” Jawabnya ketus.
Jleb.
Huaaaahhhh sebel banget
gue. Hei gimana gue nggak bengong, lo tuh ya selalu bikin ledakan-ladakan di
hati gue yang malah bikin gue kikuk tiap ketemu lo. Entah kenapa setelah gue
kenal sama lo bayangan-bayangan diri lo yang selalu gue rinduin. Gue takut lo
tau apa yang gue rasain. Dan ternyata? Gue nggak nyangka ternyata lo sedingin
ini. Asal lo tau ya gue…
“Nih
dengerin.” Dika memotong ocehan batinku dengan menyodorkan salah satu bagian headsetnya supaya aku bisa dengerin apa
yang lagi dia denger.
Setelah
aku memasang headset di telingaku,
Dika langsung saja memutar sebuah video. Video tersebut berupa slide-slide bertuliskan kata-kata yang
lebih tepatnya sebuah puisi yang diiringi oleh suara Dika pastinya yang membaca
puisi itu.
Aku Bukan Pujangga
Kepadamu kekasihku,
Ingin ku rangkaikan
ribuan kata untukmu..
Meski tak pandai ku
bertutur bahasa,
Tak pandai ku memilah
kata,
Namun semua ini hanya
ku tak ingin terus bermuram durja..
Karena memang aku ini
bukan pujangga cinta…
Mungkin kepada angin
malam,
Kuminta hadirkan
hembusan hangat jiwamu selalu untuknya…
Bisikkan ke hatinya
bahwa diri ini selalu berharap waktu kan cepat berlalu,
Hingga membawanya
kembali dalam pandanganku,
Dan tenggelam pada
nyamannya pelukanku…
Oh sang pencipta,
Penguasa alam raya,
Abadikan selalu cinta
dan ketulusan yang suci…
Karena telah ku
tambatkan ia sebagai inspirasi…
Lalu kusajikan dengan
beribu makna
Dari cinta yang
tercipta untuk dirinya
Dan kesetiaan yang
terucap dari bibirnya
Kini ku suguhkan dalam
megahnya asmara kerinduan,
Hingga ku puitiskan
segala rasa…
Meskipun sekali lagi,
Bahwa aku bukan
pujangga cinta
Blush
Langsung
saja wajahku berubah warna menjadi kepiting rebus yang benar-benar baru
diangkat dengan semua uap yang timbul karena suhu panas air. Bedanya, sinar
matahari sore ini yang memanaskan suhu diangkot ini. Dengan tetes keringat di
dahi, wajah berminyak dan berwarna merah. Aku nggak bisa ngebayangin gimana
penampilanku saat ini. Aku berusaha sedatar mungkin supaya Dika nggak tau apa
yang sebenernya hatiku rasakan.
Video
itu ditutup dengan slide terakhir
bertuliskan “Do you want to be my
girlfriend?”
Sebenernya
dalam hatiku udah sumringah. Aku samasekali nggak nyangka Dika punya rasa yang
sama walau sebenernya kita baru kenal seminggu lalu. Tapi, ada sedikit rasa
bersalah. Soalnya aku tau Nayla yang lebih dulu terobsesi sama Dika.
“Jadi?”
Aku mencoba sedatar mungkin.
Untungnya
angkot ini sudah sampai di komplek perumahanku, langsung saja aku turun
meninggalkan Dika di angkot tanpa jawaban dari pertanyaan slide tadi.
“Risma
tunggu!” Dika menghentikan langkahku begitu aku masuk gerbang komplek.
“Apa
lagi?” Aku menyahut tanpa membalikkan badan. Aku nggak mau kalau si Dika
melihat wajahku yang udah merah banget.
“Kamu
belum jawab pertanyaan tadi. Mau kan jadi pacar aku?”
Aku
masih enggan membalikkan badan, aku menggigit bibir bawahku mencegah supaya aku
nggak teriak bahagia sambil mengatur nafas. Tiba-tiba aku teringat Nayla.
“Aku
tau kamu ngehindar gini karena takut Nayla marah kan? Tenang aja, aku udah
bilang semua ini ke Nayla. Dia support
kita berdua kok.”
Blush
Lagi-lagi
Dika menambah rona merah di wajahku, mungkin udah berubah jadi warna ungu
wajahku. Kalau bener Nayla udah setuju, siapa sih yang mau nolak Dika?
“Ta…
ta… tapi, aku nggak bisa…” Belum sempat aku meneruskan perkataanku, Dika
langsung memotong kalimatnya
“Nggak
bisa apalagi Ris? Kamu masih khawatir aja sama Nayla? Aku udah bilang semua
rasa aku ke Nayla kalo…”
“Aku
nggak bisa bilang iya kalo kamu dari tadi ngomong terus!” Aku langsung berbalik
badan berteriak ke Dika yang sontak langsung membuatnya berhenti bicara.
“Jadi,
kalo aku diem kamu mau jawab iya kan?”
Aku
menganggukkan kepala, tersenyum malu-malu sambil mengedarkan pandangan ke semua
sudut asalkan jangan memandang Dika. Mengetahui hal itu, Dika mengepalkan
tangannya sejajar dengan dada dan mengayunkannya perlahan. “Yes” dia mendesis pelan.
“Yaudah
aku pulang dulu ya. Dah…” Aku yang nggak mau lama-lama di depan komplek
langsung berputar arah sambil melambaikan tangan ke Dika.
“Hati-hati
di jalan Risma!” Dika berteriak sambil balas melambaikan tangan.
Aku akan selalu
hati-hati Dik. Sampai akhirnya rasa ini bertumbuh setelah ditanam lima detik
setelah kita kenal satu sama lain. Because you are my reason in the first five
seconds.

Komentar
Posting Komentar