Dalam Bayangmu - Chapter 1
Chapter 1
~~~
I'm
still alive but I'm barely breathing
Just prayed to a God that I don't believe in
'Cause I got time while she got freedom
'Cause when a heart breaks, no, it don't break even
Just prayed to a God that I don't believe in
'Cause I got time while she got freedom
'Cause when a heart breaks, no, it don't break even
Malam itu di sebuah gerbong kereta yang
sedang melaju. Seorang pemuda tampak sedang merenung. Matanya menatap kosong ke
depan. Dia adalah Adrian Pratama, pemuda yang sedang patah hati. Ada gelisah
diwajahnya yang tak bisa tertutupi meskipun dengan topi yang dikenakannya.
Perlahan air mata keluar dari kelopak matanya, ‘seorang lelaki harusnya tak mengeluarkan
air mata,tapi kenapa aku bisa segampang ini meneteskan air mata,’ batinnya.
Dia memejamkan mata, berusaha menahan air matanya agar tidak keluar.
Detik demi detik terus berlalu. Suara desau angin malam
ditambah laju kereta bercampur dengan suara Danny O'Donoghue yang bernyanyi
melalui earphone memenuhi telinganya.
Alunanlagu yang diputar
terus-menerus memenuhi telinganya. Merambat hingga ke otaknya, terus menjalar kesetiap inci organ tubuhnya. Setiap melodi yang dimainkan menambah kegelisahan dalam hatinya. Setiap nada yang ia dengarkan semakin membuat hatinya pilu.
“What am I supposed to do when the best part of me
was always you?” Gumannya
sangat lirih
Tanpa terasa air
matanya mengalir lembut, matanya terpejam, pikirannya kembali ke masa lalu,
masa-masa yang menyenangkan sekaligus juga menyakitkan.
***
“Adrian, kamu pertahanin aku ya.”
“Hah, apa?”
“Ihh, dasar nyebelin”
“Tentulah kamu akan aku pertahankan.
Kamu tuh spesial meski gak pake telor atau kecap. Kalau kata Sheila On 7 kamu
tuh ‘anugerah terindah yang pernah kumiliki’.”
“Ihh gombalnya garing, jijik.”
“Hehehe.”
***
Adrian membuka matanya. Mencoba mencari dirinya diantara
semua kenangan yang telah ia lalui dengannya. Namun ia tak bisa menemukan
dirinya lagi.
Ia kembali menutup matanya. Memegang dadanya yang terasa
sakit, bukan sakit secara fisik. Tapi
terasa perih didalamnya. Membuat sesak.
Kembali kenangan menjejali pikirannya.
***
“Aku cepe gini
terus, Adrian. Aku cape.”
“…”
“Kita break dulu ya,
untuk saat ini. Aku cuma ingin sendiri.”
“Tapi,
aku sayang kamu..."
“…”
“Kamu
masih sayang kan sama aku?”
“Gak
tau. Aku udah gak ada rasa sama kamu....”
***
“Bangs*at!” umpat Adrian kesal. Tangannya mengepal.
Wajahnya memerah, menahan air matanya agar tidak keluar.
Meskipun terkejut, seorang penumpang disebelahnya tak
berani menegur. Ya, bukan hanya Adrian yang berada di gerbong kereta ini, ada
tiga orang; dirinya sendiri, pemuda seumuran yang duduk disebelahnya, juga
seorang mahasiswi yang duduk diujung gerbong—yang menatap iba dirinya, dia sepertinya sedang patah hati,
batinnya.
Adrian menarik pelan nafasnya, mencoba
merilekskan tubuhnya. Ia kembali menatap ke arah jendela kereta yang
menampilkan pemandangan gedung bertingkat yang bergerak cepat. Semakin cepat.
Lalu perlahan kenangan menyakitkan itu kembali merasuki pikirannya.
***
Disclaimer:
Cerita ini hanyalah fiktif
belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh, lokasi, dan jalan cerita yang
banyak dramanya, tentu aja karena disengaja. Apabila ada kejadian yang
dirasa sama, jangan tersinggung, bukan berarti saya sedang nyinyirin
anda, bisa jadi nasib kita sama.

Komentar
Posting Komentar