Dalam Bayangmu - Chapter 2
Baca chapter 1, disini
To
be continued~
Disclaimer:
Hatur Tengkyu.
Chapter 2
~~~
Melihat
tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu
Astra Dewi.
Nama yang indah bukan? Seindah sosok yang memiliki nama
itu. Bagiku, dia sempurna. Tiada cela. Wajahnya rupawan. Senyumnya juga
menawan.
Ah, Astra. Siapa yang tak tergoda memilikimu?
Aku?!
Cuma pegawai kantoran
biasa jauh dari kata luar biasa. Tidak istimewa. Aku yang tak rupawan ini. Bisa
mendapatkanmu yang bagai bidadari. Aku yang tak punya apa-apa. Selain perasaan
tulus yang menyayangimu, yang ingin selalu melihat senyum terbaikmu.
Pertemuan kita juga
sangat tidak terduga. Bertemu disebuah gerai makanan cepat saji. Saat itu kamu
hendak membayar tapi lupa membawa dompet. Aku yang kebetulan berdiri
dibelakangmu dengan senang hati membayarkan makananmu. Awalnya kamu sedikit
sungkan tapi akhirnya kamu membiarkan uang yang aku genggam berpindah tangan ke
tangan kasir.
Perkenalan kita
berlanjut di meja makan. Kamu yang tidak henti-hentinya mengucapkan
terimakasih.Kamu lawan bicara yang menyenangkan. Apapun obrolannya kamu selalu
menimpali. Lalu saat makanan dan topik pembicaraan sudah habis dan kita akan
segera pulang, kamu memberikan nomor ponselmu, memintaku untuk menghubungimu
lagi.
Awalnya aku saja tidak
percaya bisa mendapatkanmu. Perhatianmu. Hatimu. Hanya karena aku humoris, bisa
membuatmu tertawa dan bahagia. Lalu kamu bilang aku orang terbaik yang pernah
kamu temukan dalam hidupmu. Dan saat aku mengutarakan isi hatiku, kamu dengan
cepat menerimanya.
***
“Adrian.”
“Iya, Astra.”
“Kalau disuruh milih,
antara aku sama Raisa kamu milih siapa?”
“Jelas aku pilih
Raisa.”
“Ihhh.. kok gitu?”
“Iyalah, Raisa itu
cantik pake benget. Wajahnya bening. Suaranya bagus. Idaman bangetlah.”
“Ihhh.. lalaki teh, teu bisa nyieun kabogoh bungah.
Yeuh, ku urang diciwit maneh*.” (*Ihhh… dasar cowo, gak bisa buat pacarnya
bahagia. Nih, aku cubit kamu.)
“Aww.. aww.. ampun.
Tadi cuma becanda kok, aku pasti pilih kamu lah.”
“Masabodo!”
“Eta pundung. Tong pundung atuh, engke geulisna leungit geura*.”
(*Yah ngambek. Jangan ngambek, nanti cantiknya ilang lho.)
“Katanya cantikan
Raisa. Sana pacaran aja sama Raisa.”
“Kamu tambah cantik
kalau ngambek. Jadi makin sayang aku sama kamu.”
“Ohh, jadi aku
cantiknya kalau lagi marah gitu?”
“Iya, hehehe…”
“Nih, cantik.”
“Aww.. aww!!!”
***
Dia
punya semua pesona
Dia punya semua yang ku damba
Sosok yang cantik anggun menarik gerak menawan
Tutur cemerlang hati yang tulus tak bisa aku lewatkan
Dia punya semua yang ku damba
Sosok yang cantik anggun menarik gerak menawan
Tutur cemerlang hati yang tulus tak bisa aku lewatkan
Kamu tidak perlu
menyuruhku memilih antara kamu dengan wanita lain.
Tentu saja aku akan
memilih kamu.
Aku sudah terlanjur
menyukaimu.
Aku menyukai segalanya
tentang kamu, terlebih saat kamu cemberut dan cemburu, dengan batas wajar
tentunya. Saat begitu, kamu terlihat semakin mempesona. Ingin rasanya kupeluk
dan tidak kulepas.
Aku juga suka saat
melihatmu kebasahann karena air hujan yang turun tiba-tiba, pulang dari
jalan-jalan kita berdua. Lalu kita berteduh diatap sebuah warung. Saat itu aku
akan mengelap air yang membasahi pipimu. Tapi kamu dengan sengaja mencipratkan
air hujan ke arah ku. Lalu aku membalas ulahmu dan kita tertawa sambil bermain
air. Aku selalu menyukai momen saat hujan
dan menghabiskan waktuku bersamamu.
Seperti halnya menyukai
hujan, aku juga selalu menyukai matamu. Matamu selalu bisa menenangkan segala
yang gusar. Segala penat yang aku rasakan semuanya seolah sirna saat aku menatap
matamu. Aku terpesona oleh beningnya matamu.
***
“Ihhh, basah tau.”
Amarahmu saat aku memercikan air hujan dan mengenai wajahmu.
“Pembalasan tadi,
hehehe.” Aku tertawa dengan wajah tanpa dosa yang membuatmu semakin cemberut.
Set! Aku
memakaikan jaket yang aku pakai ke tubuhmu.
“Memangnya kamu gak
kedinginan, Ian?” Tanyamu memastikan saat aku memberikan jaket yang kukenakan.
“Udah biasa kok dingin
kaya gini mah, hehehe.”
Lalu aku bersin. Dua
kali. Pertanda kalau aku memang kedinginan.
“Bohong!”
“Hehehe.”
Sungguh, meski hujan yang datang sering membawa
dingin tapi saat bersamamu dia juga membawa kehangatan.
"Kamu
kedinginan, ya? Sini aku peluk." kata Astra, sambil melingkarkan tangannya
ke leher. Memeluk dari samping.
“Makanya jangan
ngeyel, sendirinya juga kedinginan kan?”
“Eh, aku gak
masalah kok. Bener deh.”
Astra tak
menjawab, dia memegang tanganku. Menggenggamnya erat. Mencoba memberikan
kehangatan. Tapi bukan kehangatan yang aku rasakan, melainkan dingin. Perasaan
dingin itu menjalar dari tangan terus ke seluruh tubuh.
Perlahan tubuh
Astra mulai memudar. Genggamannya tak begitu erat lagi. Dan tubuhnya semakin
menghilang dari pandanganku.
***
Disclaimer:
Cerita ini hanyalah fiktif
belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh, lokasi, dan jalan cerita yang
banyak dramanya, tentu aja karena disengaja. Apabila ada kejadian yang
dirasa sama, jangan tersinggung, bukan berarti saya sedang nyinyirin
anda, bisa jadi nasib kita sama.

Komentar
Posting Komentar