Mt. Salak 2.211 mdpl (28-29 Desember 2015)
“Ngos-ngosan berjamaah”
Bukan
kemana gunung yang akan kita daki, tapi dengan siapa kita akan pergi kesana.
~~~
Apa
yang terbesit ketika mendengar kata Gunung Salak? Mistisnya yang kuat?! Memang
banyak banget cerita mistis yang berseliweran soal Gunung Salak ini. Ya,
semacam Gunung Salak itu dulunya kerajaan setan siliwangi, terus gunung ini
banyak pendaki yang tiba-tiba hilang pas ketemu tau-tau udah bergelar
‘Alm/Almh’.
Terlebih
lagi pas tragedi Sukhoi, makin terkenal lah kampung gue ini, Cipelang. Eh,
maksudnya makin banyak kejadian mistis yang diklaim banyak orang.
Kalau
diceritain hal semacam ini, gue jadi malas kali, mending bubu-bubuan dirumah
aja. Denger kata Gunung Salak aja udah merinding disko duluan.
Tapi
lambat laun, gue jadi penasaran untuk sampai di puncak yang sangat disakralkan
oleh masyarakat sekitar itu. Dan akhirnya gue dikasih kesempatan buat merasakan
secara langsung apa yang sebenarnya ada di Gunung Salak.
Check it out..
***
Diambil di Puncak Manik
Gunung Salak itu
berasal dari bahasa sansekereta yaitu “salaka” yang berarti perak. Jadi, Gunung
Salak ini merupakan gunung perak dan bukan gunung yang ditumbuhi banyak salak
atau bentuk gunungnya yang kaya buah salak.
***
Senin, 28 Desember 2015
Sesuai
jadwal, jam 07.00 WIB kami harus sudah kumpul semua di depan kantor Pemasaran,
Cigombong. Ya tapi, namanya juga orang Indonesia, janjinya jam 7 tapi pas gue
udah disana malah belum ada siapa-siapa. Padahal gue udah telat 30 menit.
Kamfrett kan??!
Oiya,
pendakian kali ini gue bareng temen-temen KPA Langlang Buana, yang tanggal 21
November kemarin baru resmi jadi anggota. Hahay~ Pendakian ini juga termasuk
salah satu syarat dapat NTA.
Ada
10 orang (termasuk gue) plus 1 orang dari anggota kehormatan atau senior kami. Total
jadi 11 orang. Sebenarnya ada lagi 4 orang yang nantinya nyusul kami dipuncak.
Sekitar
jam 09.00 kami semua udah stand by di pintu masuk. Masih sedikit kezel
gara-gara tadi pada ngaret.
Setelah
berdoa terus foto-foto sebentar, kami semua sudah bersiap untuk melakukan
pendakian.
***
Pintu masuk – Pos 1 – Pos 2
Bullshit
lah yang sering dibicarakan bahwa gunung salak ini punya trek yang masih rapet,
terus berat banget, panjang, lama, dan sebagainyayang membuat hati ciut. Tapi
pas gue udah ngerasain… biasa aja tuh. *sombong* *diazab*
Sejauh
ini perjalanannya gak terlalu menguras tenaga. Treknya masih landai, gue masih
bisa ngobrol sama Ovie (satu-satunya cewe yang ikut), masih bisa pecicilan.
Enteng banget lah. Sampe puncak juga gue sanggup ini mah. *sombong lagi*
*kemudian, dikutuk sama gunung*
Pos 2 – Pos 3 – Pos 4
Yang
tadi itu belum apa-apanya, baru pemanasan. Kalo udah bertahan hidup
menyelesaikan trek landai bebatuan dan sampai di pos 2, dimana di Pos 2 ini
cukup luas.
Nah,
dari Pos 2 ini, barulah petualangan pendakian Gunung salak dengan trek sejati
dimulai…
Menghadapi
trek hutan di Gunung Salak ini harus ekstra sabar. Selain terkadang medannya
astagfirullah bikin nafas jadi mgos-ngosan plus dengkul ketemu mata.
Di
Pos 3 juga terdapat sumber air. Bisa istirahat buat sekedar isi perbekalan air,
solat, makan, bahkan bisa hammockan juga.
Dari
Pos 3 treknya lumayan bikin ngelus dada, nanjak terus. Trek tanah liat, berakar
besar-besar, gelap dan penuh misteri. Kaya isi hantinya gebetan #eaea
Perjalanan
menuju Pos 4 ini selain lumayan rapet, lumayan gelap, lumayan bikin
terengah-engah, dan bikin PHP. Gue yang awalnya jalan semangatm terus jalan
selambat siput, sampai bener-bener pelan, gue udah masuk ketahap hidup segan
mati tak mau. Jalan sambil menyesali kenapa mau-maunya naik Gunung Salak.
Puncak Bayangan – Pos 5 – Pos 6
Kehadiran
puncak bayangan ini kadang buat kita sedikit senang, karena artinya puncak yang
sebenarnya udah lumayan deket. Tapi, sedeket-deketnya di gunung kalau udah kena
virus 5L; lemas, lemah, letih, letoy, tetep aja kaki udah gak sanggup lagi.
PUNCAK!!!
Akhirnya
sampai juga di Puncak Salak 1, legaaa rasanya. Dari puncak bayangan menuju
Puncak Manik bener-bener perjuangan tanpa henti. Sebagai pendaki yang sudah ke
tahap hidup segan mati tak mau, jalan udah sempoyongan, rasanya itu juara
banget bisa sampe puncak.
Satu
hal yang bisa dibilang paling istimewa dari Gunung Salak adalah makam Mbah
Salak. Jadi, jangan heran kalo banyak warga sekitar yang juga datang buat
ziarah.
Nggak ada yang spesial
buat diceritain pas di puncak. Udah pasang tenda, masak-masak. Malamnya ngobrol
ringan sambil diskusi tentang nama suku yang akan kami pake terus akhirnya bubu
cantik.
keren kan awannya?!
Sunrise Gunung Salak leh ugha
Sekian coretan
pendakian gue kali ini di Gunung Salak.
See ya~
Puncak
itu bonus, perjalanan lah tujuan utamanya. Bukan hanya perjalanan mencapai
puncak yang harus kita bawa pulang, tapi diri kita selamat itu yang dibawa
pulang.











Via mana ya kak?
BalasHapus